by:riza nadya

I Will Forget You

breaking up is fast, but forgetting is hard
the love is painful, and i am hurt alone

Ruangan seluas 6 x 6 meter itu terlihat sangat apik,semua benda tetata rapi pada tempatnya.Semua benda yang terlihat tidak wajar berada dikamar seorang pelajar SMA,bahkan pada orang kebanyakan.Tabung tabung reaksi lengkap dengan rak kayunya singgah di rak teratas lemari kaca, termometer raksa, labu erlenmeyer, pembakar spiritus dan masih banyak benda sejenisnya.Benar benar membuat ruangan yang sebenarnya kamar tidur itu tidak nampak seperti kamar tidur.

Sejauh mata memandang, tidak ada ranjang yang bisa ditemukan.Hanya ada tatami untuk duduk yang malamnya akan beralih fungsi menjadi tempat tidur.Dan detik ini 2 dari 4 tatami itu sedang melaksankan fungsinya.Menjadi alas duduk.

“Origanmaniyeyo!lama tidak berjumpa ,Min Hwan oppa.” ucap gadis berambut panjang itu.Matanya yang lebar menatap lurus ke arah lawan bicaranya.

“Tidak juga.Baru 2 minggu yang lalu kau mengangguku.” Jawab sang pemilik kamar.Ia memalingkan wajah,merasa jengah dipandangi seperti itu.Suasana begitu senyap saat tak ada kata yang terucap diantara mereka.Hanya desiran angin berbicara lemah dan gesekan dahan dahan aprikot jepang yang dapat terlihat dari jendela kamar.

“Yojum eoddoke jinaessoyo2bagaimana kabarmu akhir akhir ini ?” gadis itu memandang kesekeliling .Ke semua benda yang dapat dilihatnya.Tersenyum sekilas lalu kembali menatap lawan bicaranya.

“Chosumnida3baik baik saja”Jawab Min Hwan dingin

“Oppa…”gadis itu baru mau meneruskan kalimatnya ketika Min Hwan menyela.

“Apa kau punya waktu besok?” Tanya Min Hwan.

“Tentu saja.” Gadis itu menjawab riang.

“Baiklah kalau begitu keluar sekarang.Aku sibuk.Aku tak punya waktu untuk mengobrol dengan mu.Aku sedang sibuk sekarang.”Ujarnya datar.

“Oppa?” gadis itu memandang dengan sorot memohon. Min Hwan menatapnya tajam.Akhirnya gadis itu berdiri dan berjalan pergi.

“Yodolsiyeyo 6pukul datanglah ke rumah.Ada yang ingin aku bicarakan.” ucap Min Hwan tegas.Gadis itu menunduk, ia menghela nafas lemah.Sorot matanya meredup.

“Mianhae sudah mengganggumu oppa.”Ujarnya sebelum pergi keluar kamar.

“Berhenti memanggilku oppa.Aku bahkan tak mengenalmu.” Kata kata itu meluncur.Membuat gadis itu tertegun. Ia jatuh dalam lamunannya sejenak lalu kembali melangkah keluar.

***

Song Sang He

Aku tak pernah menyangka. Jika kecelakaan itu akan berakibat seperti ini.Semua seakan hilang dari ingatannya. Tidak,bukan semua.Hanya tentangku. Amnesia parsial.Kapankah semua ingatan Min Hwan akan kembali. Kapankah aku bisa melihatnya tersenyum seperti dulu lagi. Dulu aku memang memintanya untuk melupakanku.Tapi bukan dengan cara yang seperti ini.Apa mungkin ini semua karena keegoisanku.Min Hwan masih sangat mengharapkanku untuk kembali saat itu.Ya, karma itu berlaku.Tuhan, izinkanlah aku membayar segala kesalahanku.Dengan apapun itu.Jika memang kau memutuskan ingatannya tentangku dan tak pernah mengembalikannya lagi.Aku rela.

Sang He masih diam di tempatnya berdiri. Baru saja ia keluar dari dalam rumah yang ditinggali Min Hwan. Sementara kekacauan dipikirannya terus berlanjut.Butiran salju kembali turun. Berseluncur diatas rambutnya yang lurus.Remang cahaya lampu jalan menerpa wajah kusutnya yang masih tetap terlihat cantik.Tas tangan merahnya masih tersandang dibahu.Jemarinya yang beku memegang tas merah itu erat.Tiba tiba seorang dari kejauhan melambaikan tangan kearahnya.

“Sang He-ya.”Sapanya.

“Hye Min?”Sang He tersenyum.Hye Min teman sebangkunya disekolah berjalan ke arahnya.Jaket tebal yang ia kenakan menenggelamkan tubuh mungil Hye Min ke dalamnya.

“Kau terlihat seperti kucing anggora.”Sang He tertawa.

“Sebegitu berbulunyakah aku?”Hye Min bertanya,matanya mengerjap lucu.

“Tidak,kau begitu lucu.Seperti kucing anggora.Menggemaskan.Hahahahaha.”

“Kaja, hawanya semakin dingin saja.Kita masuk lagi saja.Aku membelikan minum untukmu.”Tangan mungil Hye Min menarik lengan Sang He. Dalam diam pikiran Sang He kembali menerawang.Walau perjalanan masuk ke dalam rumah begitu singkat.

2 bulan yang lalu. Hye Min memperkenalkan penghuni kamar sewa yang baru datang dari Jepang pada Sang He, saat ia kebetulan bermain kerumah Hye Min.Seperti biasa sabtu malam yang selalu Hye Min dan Sang He habiskan untuk menonton dvd bersama.Choi Min Hwan.Blasteran Jepang Korea yang pindah ke Seoul untuk meneruskan studinya.Seorang cowok berumur 18 tahun, 2 tahun lebih tua dari Sang He yang bertubuh cukup berisi dan cukup tinggi. Matanya yang seakan selalu bersinar memiliki daya tarik tersendiri bagi Sang He.Wajahnya yang lucu. Pribadinya yang santai dan hangat.Seorang yang dewasa dan begitu pengertian.Yang suka mengatakan ‘iminani’ dengan gayanya yang lucu,yang selalu membuat Sang He ingin mencubit kedua pipinya.Akhirnya hubungan mereka semakin erat dan kata ‘teman’ itu tergantikan.Waktu satu bulan yang begitu singkat berlalu begitu saja.Membawa beribu kenangan manis.

Suatu ketika Min Hwan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan bersama Hye Min.Tujuannya untuk mencarikan sebuah hadiah untuk Sang He.Namun ditengah pencarian Hye Min merengek  minta ditemani pergi ke photobox. Akhirnya mereka pergi ke sebuah tempat photobox. Hye Min membuka tirai sebuah ruangan yang ia kira kosong.Namun ternyata 2 orang yang sangat ia kenali sedang berada disana.Berpelukan dan menghadap kamera. Bagai tersengat arus listrik ,Hye Min tersentak kaget hingga tubuhnya menegang bersandar didinding. Min Hwan yang berada dibelakangnya tak kalah kaget. Sang He dan Seung Hyun.Seung Hyun adalah mantan kekasih Sang He.Seorang yang seharusnya pergi jauh jauh dari kehidupan Sang He karena telah membuat kenangan buruk di masa lalu.Membuat luka sayatan yang cukup dalam di hari Sang He.Tapi kenapa sekarang?

Min Hwan mengacak rambutnya frustasi.Sang He tersenyum lemah.Ia keluar dari ruangan itu lalu berbisik pelan ditelinga Min Hwan.

“Forget me “Singkat namun sudah mewakili segalanya.Sang He lalu pergi pulang saat itu menarik lengan Seung Hyun mengikutinya.Meninggalkan Min Hwan dengan perasaan hancur.Dan kebiasaan buruk itu muncul lagi dari dalam diri Min Hwan.Di Jepang dulu ketika perasaannya sedang buruk Min Hwan sering sekali berusaha menghilangkannya dengan kebut kebutan.Dan naasnya malam itu kecelakaan membuat sebagian ingatannya hilang.Ingatan akan Sang He selama dua bulan ini.

“Dia bilang sedang sibuk ya? Haha…  dia memang sedang sibuk mengepak barang bawaan.Min Hwan mungkin akan pulang ke Kyoto untuk beberapa hari.”Ucap Hye Min sambil membuka kaleng softdrinknya.

“Apa?”

“Ya untuk beberapa hari ini.Ibunya menyuruh Min Hwan pulang.Untuk sementara sih.Mungkin 1 minggu.”

“Selama itukah?”

“Hmm.Kamar itu akan berhenti mengepulkan asap untuk seminggu ini.”Hye Min tertawa. Mengingat kebiasaan Min Hwan yang suka melakukan eksperimen dikamarnya.

“Aku akan merindukannya.”Gumam Sang He.Kepekaan pendengaran Hye Min tak menangkap ucapan itu.Sang He baru akan membuka kaleng soft drinknya ketika Min Hwan berjalan melewati ruang tamu.

“Oppa.Mau kemana?”Tanya Hye Min.

“Aku pergi keluar sebentar.”Ujarnya singkat dalam bahasa Jepang.

“Dasar.Sudah tahu aku sama sekali tidak faham bahasa itu.”Umpat Hye Min

“Kau mau menginap disini malam ini?”Tanya Hye Min mengalihkan pandangan lesu Sang He pada Min Hwan.

“Sudah lama sekali kau tak pernah bermalam di rumahku.Huh.”Hye Min memonyongkan bibirnya.

“Tidak , aku rasa tidak untuk malam ini.Aku sudah terlanjur janji pada SeungHyun untuk menemaninya pergi makan.”Ucapan Sang He membuat Hye Min mencibir.

“Kau masih saja berhubungan dengannya?”

“Untuk terakhir kalinya.”Sang He mengalihkan pandangannya keluar jendela.

“Aku tak akan menyakiti Min Hwan untuk kedua kalinya.”

Even if you forgot already, could you remember me again?

***

Sang He menatap lekat sosok di belakang kemudi.Seung Hyun,yang masih berkonsentrasi pada jalan. Sang He memilin ujung bajunya.Ia menggigit bibirnya.Matanya menatap lurus kedepan penuh kekhawatiran.

“Oppa…”Ujarnya pelan.

“Hmm?”Seung Hyun tersenyum pada Sang He.

“Jeongmal mianhae yo…”

“Ha?Kenapa kau ini?”SeungHyun tertawa lalu jemarinya membelai rambut Sang He lembut.

“Oppa… aku rasa aku ,maksudku kita… harus mengakhiri hubungan ini sampai disini.”Ujar Sang He akhirnya.Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah luar jendela.Sang He benar benar takut kalau kalau Seung Hyun nanti akan marah.

Seung Hyun menghela nafas dalam.Tangannya menggaruk garuk kepalaIa kemudian mendesah pelan.

“Jangan bercanda.”ujarnya singkat.

“Aku tidak bisa membohongi perasaanku oppa.Aku mencintai min hwan.Semua itu, semua kecelakaan itu secara tidak langsung semuanya karena aku…”

“Kau masih membohongi perasaanmu Sang He.Ku rasa kau ingin kembali kepadanya hanya karena kau merasa kasihan pada Min Hwan.Sudahlah.Itu semua takdir dan bukan karena kau.”Ujar Seung Hyun.

“Oppa…jeongmal mianhae.Keputusanku sudah bulat*diakata bola kali bulat*#plakk author merusak suasana ^^mianhaeyo#.”Sang He menatap Seung Hyun lekat lekat.Seung Hyun hanya diam.Ia lalu memutar tape.Dan memutar balik arah perjalanan mereka.Semuanya berputar, berputar kembali.Memori otak SeungHyun pun ikut berputar menampilkan kembali saat saat indah ketika bersama Sang He.

jalga majimakinsaro sarangeul bonaebnida
ajikeun jogeum bujokhan sarange geudaereul jabjimothabnida
ijen oraetdongan geudae manaji mothajiman
geudaega geudongan naegejwotdeon sarangeul giokhabnida
ddaeron apatdeongioke nunmuldo nasseotjiman
geudaewa hamkkehan sunganeun naesaenge gajang keun seonmulirabnida

For my last goodbye i’m sending you my love
I cannot reach you with my still-lacking love
Even though I cannot see you for a long while,
And though many tears spilled through hard memories you gave me
The moments together with you were the best
Presents i’ve ever been given

Lagu itu terus berkumandang.Menimbulkan atmosfer lain disekitar mereka. Sang He memalingkan wajahnya keluar jendela. Air matanya menetes perlahan,menyusuri pipinya yang putih dan dingin.

“Kita kembali ke rumah Min Hwan.Katamu kau tadi mau menemuinya lagi.”SeungHyun menundukkan kepalanya kemudian menggeleng.Hatinya masih belum bisa menerima kenyataan ini.

“Nuhn nappeun yeojaya.”Ujar Seung Hyun saat Sang He akan keluar dari mobilnya.Sang He berbalik menghadap SeungHyun.Ia lalu menatap nanar pada Seung Hyun.Seung Hyun tersenyum.

“Geuman heuh jijago hamyun, nahn eottokkhaeni?*jika kau berkata kita harus mengakhirinya,apa yang harus aku lakukan*#ada yang kenal kata kata ini😄😄 lyric lagu f.t island dong#plakk ni author gannggu aja#?”Tanya Seung Hyun sambil tersenyum lemah.Ia lalu mengecup kening Sang He sekilas.

“Pergilah…Lakukan apa yang kau suka.”Seung Hyun memalingkan wajahnya.Ia melihat seorang cowok sedang berdiri mematung didepan mobilnya.Min Hwan?

“Aku … aku tidak bermaksud.”Ujar Seung Hyun takut Sang He akan salah faham dengan apa yang barusan ia lakukan.Ia meninju jok mobil.

“Aku mengerti.Aku tahu kau tak bermaksud membuat Min Hwan marah.Aku pergi.Jaga kesehatanmu baik baik oppa.”Ujar Sang He sebelum berjalan mengikuti Min Hwan masuk ke dalam rumah.

***

“Aku ingin kau pergi dari kehidupanku.”Ujar Min Hwan sambil menatap Sang He lekat lekat.

“Kau mungkin orang yang pantas dilupakan sampai sampai kecelakaan ini membuatku melupakanmu.Mungkin semua ini lebih baik untukku.Aku mau kau pergi dari kehidupanku dan jangan kembali.Maaf kalau kata kataku ini menyakitimu.”MinHwan tersenyum.

“Tapi….”

“Sudahlah.Jangan seperti itu.Aku hanya manusia biasa.Diluar mungkin masih banyak yang lebih baik dariku.Aku minta kau jangan pernah menemuiku lagi mulai detik ini.Lupakan semua yang pernah terjadi.Bukankah itu mudah?”Min Hwan tersenyum.Hati Sang He berdesir.Angin dari luar yang menyelinap masuk lewat ventilasi meniup rambutnya pelan.Ia menundukkan kepalanya dalam,menyembunyikan raut kesedihan yang pasti terlihat jelas di wajahnya.

“Ini untukmu.”MinHwan memberikan sebatang cokelat pada Sang He.

“Coklat itu sangat enak.Hehe… mungkin akan membuatmu sedikit gemuk.Tapi tak apalah.Bukankah gadis gadis suka coklat dan aku yakin kau pasti akan dengan cepat bisa menurunkan berat badanmu.”Min Hwan tertawa.Sang He memejamkan matanya.

Kenapa kau seperti ini.Kenapa kau bisa tertawa seperti ini.Kau memintaku untuk melupakanmu.Kau memberiku cokelat dan menyuruhku melupakanmu.Dan kau tertawa!Apa maksudmu!Kau pikir ini aku anak kecil yang dengan mudah dapat dibujuk.

“Aku pergi.”Sang He berdiri dari duduknya.Ia meletakkan sebatang cokat itu di atas meja.

“Kau tidak mau?”Tanya Min Hwan.Namun Sang He terus berjalan keluar tanpa melihat lagi kebelakang.

“Au revoir…”Ujar Min Hwan dengan senyuman perih tersungging dibibirnya.

Aku ingat siapa kau.Aku sudah tahusekarang bahwa dulu  kau begitu berarti.Aku tahu aku melupakanmu.Aku tahu.Kau sangat berharga Tapi,kau tidak tahu bahwa ingatanku sudah kembal kan?Dan kau juga  tidak tahu aku sudah ingat lagi pada rasa sakit itu. Yang kau tahu hanya aku sudah melupakanmu. Tapi seperti itu juga tidak buruk.Aku akan melupakanmu lagi untuk kedua kalinya.Selamat tinggal.Sang He ya…

***

@Kyoto

Minhwan melepas jaket pink yang ia pakai lalu melemparkannya begitu saja ke atas koper.Ia lalu masuk ke dalam rumah. Dibalik pintu Choi Sungmin adiknya menyunggingkan senyum lebar ke arah MinHwan.Minhwan memandangnya malas.

“Kenapa kau tersenyum seperti kuda begitu.”Umpat MinHwan lalu naik ke kamarnya. Sungmin hanya bisa mendengus kesal lalu membawakan koper yang Min Hwan letakkan sembarangan didepan pintu.

Sementara itu dikamarnya Min Hwan meraba dinding mencari saklar lampu.Cahaya yang mula mula redup bersinar seutuhnya.Dan ia bisa melihat ruang yang terkesan kosong itu.Hanya ada sebuah ranjang,lemari kaca yang kosong dan meja dimana di atasnya terdapat foto seorang wanita.Min Hwan berjalan mendekati meja.Tangannya meraih bingkai foto diatasnya.Ia mendekapnya erat lalu meletakannya kembali dengan posisi tertutup.

“Amma tersenyum disana.Kenapa kau harus bersedih seperti itu. Sudahlah hyung.”Sungmin menepuk punggung Min Hwan.

“Ini kopermu.”Ia tersenyum lalu berbalik pergi.

Min Hwan berjalan menuruni tangga.Lalu ia berbelok menuju garasi. Matanya menangkap benda yang tertutup kain itu.Hatinya terusik untuk mendekatinya.Jemari tangannya perlahan membuka penutup kain. Sebuah motor berwarna hitam. Bibirnya menyunggingkan senyum perih.Min Hwan menggelengkan kepalanya dan segera menutup lagi motor itu.Ia lalu mendorong keluar sepeda milik Sungmin dan menaikinya.

“Kau mau pergi kemana hyung?”Tanya Sungmin yang melihat Minhwan mendorong sepedanya keluar dari garasi.Namun Minhwan tak menjawab dan hanya meleletkan lidahnya.

Matahari masih memberikan kehangatan yang cukup disore itu.Minhwan memacu sepedanya kencang lalu berhenti di sebuah padang rumput.Ia memarkir sepedanya dan duduk sembarangan.Memandang langit yang berwarna jingga, dan tersenyum.Minhwan memejamkan matanya dan menghirup wangi rerumputan yang meninggi disekitarnya. Tiba tiba ia mendengar suara yang membuat matanya terbuka.

Suara biola yang mengumandangkan lagu Living In The Past.MinHwan mencari cari arah datangnya suara.Ternyata seorang gadis yang memakai terusan berwarna merah muda terlihat sedang memejamkan mata dan memainkan biolanya. Begitu damai.

“Ya…”Panggil Minhwan.

“Hei Kau!Kau yang bermain biola.”Panggil minhwan lagi dalam bahasa korea.Minhwan baru menyadari tempatnya berada kini.

Walupun Minhwan sudah memanggil dengan bahasa Jepang, gadis itu tetap meneruskan permainannya.Beberapa menit kemudian ia baru berhenti dan menoleh pada Minhwan.

“Living In The Past.”Ujar Minhwan lalu menatap langit.Gadis itu beranjak mendekati Minhwan lalu duduk didekatnya.

“Apa kau terkesan?”Tanyanya dalam bahasa korea.Ia tersenyum manis.

“Kau bisa berbicara bahasa korea?”Tanya Minhwan .

“Ne, hang’ukmalur halsuissoyo.*ya aku bisa berbicara bahasa korea* Hang’uk saramiyeyo*aku orang korea*. Aku hanya pergi berlibur ke Kyoto.”Gadis itu tersenyum.

“Kita sama.Aku juga sedang berlibur disini.”Minhwan membalas senyumanya.Gadis itu mengangguk, sejurus kemudian ia meletakkan biolanya di atas rerumputan.Minhwan meraih biola itu lalu memainkannya.

“Kashmir.”Tebak gadis itu sambil menyunggingkan senyum.Minhwan menoleh sejenak ke arah gadis itu lalu kembali memainkan biola sambil memejamkan mata.Beberapa menit kemudian ia menghentikan permainannya.

“Ireumi muosiyeyo*siapa namamu*?”

“Hye Won.”Gadis itu kembali tersenyum.

“Hei,kau suka sekali tersenyum ya.”Minhwan tertawa.

“Amma ku bilang aku cantik kalau tersenyum.”Ujar Hye Won itu polos.

“Hahahaha! Semua ibu pasti akan mengatakan itu pada anaknya.”Minhwan tertawa lagi.

“Ya aku tahu.”Hye Won tersenyum, pada langit.Matanya menatap penuh arti.

“Choi Min Hwan.”Min Hwan mengulurkan tangannya.Hye Won meraih tangan Minhwan.

“Jari jarimu dingin.”Ujar Minhwan lalu melepas genggaman tangan mereka.

“Mannasopangawo*senang berkenalan denganmu*.”Hye Won tertawa kecil.Minhwan ikut tertawa.

“Berapa umurmu?”

“Lima belas.”

“Apa?Kau harus memanggilku oppa!”Minhwan mengacak rambut Hyewon.Hyewon menganggukkan kepalanya lagi,membuat kuncir rambut nya naik turun.Tiba tiba seorang anak laki laki  kecil berlari ke arah mereka.

“Noona…!”Panggilnya.Hye Won dan Minhwan menoleh ke arah anak laki laki yang berlari ke arah mereka.

“Jung su ya…”Hyewon melambaikan tangannya.Anak laki laki itu memandang heran pada Minhwan.Ia sampai memiringkan kepalanya.

“Kau melihatnya?”Tanya anak laki laki itu pada Minhwan.Ekspresi Minhwan langsung berubah bingung.

“Apa maksudmu?”

“Haha…maksud Jung Su, apa oppa mengenalku.”HyeWon tertawa.Jung Su yang semula kelihatan ingin protes kembali membungkam mulutnya ketika Hye Won memandangnya.

“Dia adikku Jung Su.”Jung Su dan Minhwan saling pandang.Jung Su masih memandangi Minhwan dengan cara yang sama waktu pertama kali ia bertanya ‘apa kau meihatnya?’ dan Minhwan sendiri mulai merasa jengah dipandang dengan cara seperti itu.

“Kami pulang dulu oppa.”Hyewon meraih biolanya dan berdiri.HyeWon dan Jungsu membungkukkan badan lalu berbalik pergi.Minhwan terus memandangi kepergian mereka sampai akhirnya sosok Hyewon dan Jungsu menghilang pada ujung jalan.

Baru kali ini Minhwan bisa begitu nyaman dekat dengan orang yang baru dikenalnya.Tapi entah mengapa ia merasa sudah lama mengenal HyeWon.Ah apa mungkin karena ia begitu menginginkan seorang adik perempuan dari dulu.Entahlah.Minhwan tertawa.

***

Esok harinya Minhwan datang lagi ke padang rumput itu.Ia berharap akan bertemu Hye Won.Gadis biola yang kemarin memainkan Living In The Past dengan indah.Minhwan merebahkan tubuhnya diatas rerumputan.Sebentar kemudian ia mendengar suara biola yang digesek,melantunkan Bohemian Rhapsody.Ia tersenyum pada langit.

“Hye Won .Kau disana?”Tanya Minhwan.Tak ada yang menjawab.Beberapa saat kemudian lantunan biola itu berhenti.

“Aku disini oppa.”

“Oppa.Kau percaya akan surga?”Tanya Hye Won pada Minhwan.Min Hwan tertawa.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Apa kau percaya?Katakan saja.Percaya atau tidak.”

“Ya, aku percaya.Ibuku di surga sekarang.”

“Ibuku juga.”

“Kita sama.”Minhwan bangkit dari posisi tidurnya.Ia lalu mencari sosok Hye Won.Itu dia ,tertutup rumput yang mulai menguning.Memandang lurus ke depan.Wajahnya pucat dan begitu damai.

“Ibumu meninggal karena apa?”

“Kecelakaan.”Hye Won terlihat menunduk.

“Kita sama.”Minhwan merapatkan jaket pinknya.Dadanya terasa sesak.

“Tapi mungkin yang berbeda .Ibuku meninggal karena aku.”Minhwan memalingkan wajahnya kelain arah.Angin bertiup dari arah yang berlawanan membuat aroma rumput kembali tercium.

“Maksudmu?”Hye Won bertanya.

“Ceritanya panjang.”

“Aku akan mendengarkan.”Hye Won berjalan mendekati Minhwan lalu duduk disampingnya.

“Aku akan duduk disini dan mendengarkan oppa bercerita.Jadi mulailah sekarang.”Hye Won tersenyum.Minhwan tertawa.

“Kenapa wajahmu itu begitu lucu Hyewon-a.”Minhwan kembali tertawa.

“Ayo mulailah.”

“Appa.Ia sangat menginginkanku menjadi pembalap.Pembalap adalah cita citanya yang dulu tak bisa ia wujudkan.Sedangkan amma, ia berbeda. Amma selalu marah jika aku pergi ke sirkuit untuk latihan.Amma seorang profesor.Dia begitu menyukai kimia. Dia sangat senang melakukan percobaan.Mereka begitu kontras. Aku juga bingung kenapa mereka dulu bisa menikah.”Minhwan tertawa.Hyewon memandanganya serius.Akhirnya Minhwan diam dan kembali melanjutkan ceritanya.

“Ammaku punya penyakit jantung.Ya kau tahu lah.Orang yang memiliki penyakit jantung bisa pergi sewaktu waktu.Suatu hari appa dan amma bertengkar.Ya karena masalah itu.Appa protes pada nya, amma sudah ia biarkan membentuk Sungmin sesuai keinginannya kenapa appa tidak boleh membentukku sesuai keinginan appa.Amma berkata pada appa jika ia sering melihatku ikut kebut kebutan liar.Appa tidak percaya dan tetap kukuh pada keinginnannya.Tapi itu memang benar.Jika sedang banyak masalah aku memang sering berusaha melupakannya dengan kebut kebutan.”

“Siapa Sungmin?”Hyewon mengerutkan keningnya.

“Dia adikku.”Minhwan tersenyum ke arah Hyewon.

“Lalu?”

“Ya… pertengkaran itu begitu hebat.Sampai sampai ibuku terkena serangan jantung dan meninggal.”Minhwan menundukkan kepalanya.

“Dan sejak saat itu aku berhenti latihan.Aku pikir semua itu karena salahku.Mungkin jika aku tidak ikut kebut kebutan liar amma akan memperbolehkanku berlatih.Dan pertengakaran itu juga tak akan terjadi.Dan ammaku juga tak akan meninggal.”Minhwan membenamkan wajahnya.Dadanya benar benar terasa sesak.

“Sejak saat itu aku mulai mencoba menjadi yang amma mau.Aku pindah ke korea untuk meneruskan studyku dan meninggalkan semua kenangan masa lalu,meninggalkan sirkuit meninggalkan motor.Belajar dengan giat.Melakukan percobaan percobaan seperti halnya yang amma lakukan dulu.Di korea aku bertemu seorang gadis.Dia mengingatkanku pada amma.Matanya itu begitu mirip.Dia membuatku nyaman ketika dekat dengannya.Tapi ternyata dia hanya mempermainkanku.Aku sempat mengalami amnesia parsial dan melupakannya.Namun ingatanku kembali lagi dan rasa sakit itu juga kembali.Tapi aku sudah berniat melupakannya.Gadis di dunia ini bukan dia saja.Aku ke korea untuk melupakan lukaku bukan untuk menambah luka baru.”

“Hmm.Itu benar.Tak seharusnya kau menambah lukamu dengan memikirkan gadis seperti itu.Tapi oppa.Kau tahu?Jika ammamu masih hidup sekarang pasti ia akan merasa sedih melihatmu seperti ini. Melihatmu hidup dibawah bayang bayang penyesalan. Jika kau percaya amma mu sekarang disurga. Kau harus percaya juga jika tuhan memberikan tempat yang baik untuknya disana. Apa kau tidak ingin melihat nya bahagia oppa?”Tutur Hyewon.Minhwan memandang gadis itu tepat pada matanya.Begitu tulus,polos dan apa adanya.Sorot mata Hyewon.Hyewon tersenyum.Ia lalu meraih biolanya.Meletakkan benda coklat itu dipundaknya dan mulai menggesek dawai dawainya.Lagu yang tidak Minhwan ketahui.

“Lagu apa ini?”Tanya Minhwan.

“Hope is a dream that never sleep.Kau tahu?Lagu yang dinyanyikan Kyuhyun.”Hyewon tertawa.Minhwan ikut tertawa.

“Di Jepang kau tinggal dimana?”

“Aku sebenarnya tinggal di Miyagi. Di rumah nenekku.Aku ke Kyoto untuk menemui adikku.2 hari yang lalu aku ke Kyoto.Ayah dan ibuku bercerai.Jungsu tinggal bersama ayah di Kyoto.Aku dan ibu tinggal di Seoul.Jika ke Jepang aku pasti akan tinggal di rumah nenekku.Rasanya canggung jika harus serumah dengan ayah dan Jungsu.”

“Miyagi?”Minhwan masih tidak percaya dengan yang didengarnya.

“Sudah mulai gelap oppa.Aku harus pulang.Aku ,Jungsu dan ayah tinggal di apartemen itu.”Hyewon menunjuk ke arah sebuah apartemen yang dari jendelanya bersinar cahaya lampu.

“Sampai bertemu besok Hyewon-a.”Minhwan melambaikan tangannya.Hyewon mengangguk dan berjalan pergi.

“Miyagi?”Minhwan masih tidak percaya.

***

Miyagi?Bukankah tiga hari yang lalu Miyagi luluh lantak oleh tsunami ?Miyagi? Jika dia kemari 2 hari yang lalu?Siapa Hye Won sebenarnya?

***

“Oppa.Kau percaya akan surga?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Apa kau percaya?Katakan saja.Percaya atau tidak.”

“Ya, aku percaya.Ibuku di surga sekarang.”

“Ibuku juga.”

“Kita sama.”

~

“Kau melihatnya?”*Jungsu*

~

“Di Jepang kau tinggal dimana?”

“Aku sebenarnya tinggal di Miyagi. Di rumah nenekku.Aku ke Kyoto untuk menemui adikku.2 hari yang lalu aku ke Kyoto.Ayah dan ibuku bercerai.Jungsu tinggal bersama ayah di Kyoto.Aku dan ibu tinggal di Seoul.Jika ke Jepang aku pasti akan tinggal di rumah nenekku.Rasanya canggung jika harus serumah dengan ayah dan Jungsu.”

“Miyagi?”

Minhwan terbangun dari tidurnya.Semua kejadian saat ia bersama Hyewon hadir dalam mimpinya.Semua keganjilan keganjilan itu.Minhwan mengusap wajahnya.

“Hyung?”Sungmin yang tidur disampingnya ikut terbangun.Ia lalu bersandar dibahu Minhwan.

“Sungmin-a.Apa kau mengenal Hyewon?”

“Ha?Siapa itu?”Tanya Sungmin dengan mata setengah terpejam.

“Kau …ah… iya…kau pasti tidak mengenalnya.Sudahlah kembalilah tidur.” Minhwan meletakkan kepala adiknya kembali diatas bantal.Ia lalu membenarkan letak selimut Sungmin lalu pergi keluar kamar.

Tangan Minhwan meraba saklar lampu.Ia lalu menekannya dan lampu dapur kemudian menyala terang.Ia menuangkan air dari botol ke dalam gelas.Suara gemericiknya membuat Minhwan sedikit lebih tenang.Minhwan lalu bersandar di dinding.

“Eomma… mianhaeyo.Eomma jeongmal mianhaeyo.”ujarnya dengan suara serak.Air mata meluncur perlahan di pipinya.

“Eomma!Eomma!”Teriak Minhwan.Ia menggenggam erat gelas ditangannya.Kakinya serasa tak mampu lagi menahan berat tubuhnya.Ia lalu duduk dan terus menangis.Sungmin dan ayahnya muncul dari ambang pintu.

“Hyung.”Sungmin segera berlari mendekatinya.Ia memeluk Minhwan erat .

“Hyung.Tenanglah.”Walaupun dia seorang laki laki,hati Sungmin begitu lembut.Didikan ibunya membuatnya tumbuh menjadi laki laki yang begitu peka.Sedangkan ayahnya sendiri masih berdiri mematung melihat kedua putranya.Tangannya menggapai ragu ,namun akhirnya ia memeluk kedua putranya itu juga.

“Eomma sudah tenang Minhwan.Tenanglah semua ini bukan salahmu.Eomma sudah tenang disana.”Ujar ayah Minhwan.Sungmin terperanjat,ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.Ayahnya yang begitu pendiam bisa mengeluarkan kata kata semanis itu benar benar merupakan suatu keajaiban.

“Appa…appa kau mengenal Hyewon?Appa?Apa kau mengenalnya?”Tanya Minhwan sambil menarik narik kerah jaket ayahnya.

“Ya, gadis itu.Gadis itu.Aku mengenalnya. Tenangkanlah dirimu dulu Minhwan dan lekas kembali ke kamarmu.Besok akan kuceritakan.”Ayahnya berdiri dan kembali menjadi sosok yang kaku.

“Eommamu benar benar tidak ingin melihat kita seperti ini.Eommamu menginginkan kita untuk melepas kepergiannya dengan ikhlas.Kau percaya akan surga kan? Jika kau percaya ,kau juga harus percaya jika eomma kini sudah bahagia disana.Jika tuhan sudah memberinya tempat yang baik disana.”Ujar ayahnya sebelum meninggalkan kedua putranya yang masih duduk dilantai.

“Ayo hyung…” Sungmin menuntun Minhwan untuk berdiri.

Kau percaya akan surga kan?Jika kau peraya kau juga harus percaya jika eomma sudah bahagia disana.Jika tuhan sudah memberinya tempat yang baik disana.

“Jika kau percaya eomma mu sekarang disurga. Kau harus percaya juga jika tuhan memberikan tempat yang baik untuknya disana. Apa kau tidak ingin melihat nya bahagia oppa?”

‘Hyewon.Siapa sebenarnya dia.Malaikatkah?Siapa!Siapa!’Teriak Minhwan dalam hati.

***

Minhwan mengayuh sepeda milik Sungmin cepat menuju apartemen yang Hyewon katakan sebagai tempat tinggalnya.Selain karena hujan yang turun semakin deras juga karena rasa penasaran Minhwan yang amat besar.Minhwan meletakkan sepedanya sembarangan.Tak peduli penjaga keamanan yang berteriak teriak dibelakangnya.Ia segera berlari masuk dan mencari nomor apartemen yang tertulis di selembar kertas yang ayahnya berikan.

“Annyeonghaseyo…”Ujarnya ketika seorang anak laki laki membukakan pintu untuknya.

“Jungsu-ya?”Minhwan bertanya.Anak laki laki itu mengangguk.

“Masuklah oppa.Kau oppa yang bersama….”

“Ne, aku oppa yang itu.”Minhwan mengangguk lalu bergegas masuk.

“Jungsu-ya.Sebenarnya siapa Hyewon itu?”Tanya Minhwan tanpa basa basi.Jungsu menunduk lemah.

“Aku juga heran kenapa kau bisa melihatnya.Aku benar benar heran.Dia noona ku. Dia telah dikabarkan meninggal 2 hari yang lalu. Dan dia memang sudah meninggal.Noona kembali untuk menemuiku dan ayah.Menyuruh kami agar tidak bersedih dan larut dalam penyesalan.Dia mengatakan pada kami bahwa ia dan eomma sudah bahagia.Surga begitu indah.”Jungsu tersenyum perih.

“Jika ia menemuimu.Berarti dia juga menginginkanmu untuk melakukan hal yang sama.”Jungsu tersenyum pada Minhwan.Minhwan memandang Jungsu sejenak ia lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Beberapa detik kemudian Minhwan berdiri dan berpamitan.Saat keluar dari apartemen penjaga keamanan masih terus saja mengomel.Tapi Minhwan menghiraukannya.Ia menaiki sepedanya ditengah hujan deras yang mengguyur dan pergi ke padang rumput tempat dimana ia bertemu Hyewon beberapa hari yang lalu.

Ia berdiri menantang hujan, tiba tiba sebuah sinar berkilat cepat.Petir.Dan menimbulkan suara yang membuat Minhwan bergidik ngeri.Ia benar benar membenci petir.Ia takut.Namun seperti ada tangan yang menutup telinganya.

“Jangan takut Minhwan itu hanya suara malaikat yang sedang bermain kembang api.Lihat sinarnya indah bukan?”

“Eomma.”Minhwan bergumam pelan.Ini hanya halusinasinya atau memang benar eommanya sedang berada didekatnya.

“Minhwan.Kau percaya akan surga kan?”

“Ne.”

“Kau juga harus percaya kalau eomma sudah bahagia disana.”

“Ne.Eomma.Ne.”

“Jaga adikmu baik baik.Aku menyayangimu.Lakukanlah sesuai kemauanmu.Eomma tidak akan memaksamu lagi.”Lalu suara itu benar benar menghilang.Hujan pun mulai mereda.Minhwan terduduk lesu.

“Oppa…”Suara itu Hyewon.Minhwan mencari cari arah datangnya suara.

“Jika kau percaya akan surga.Maka kau harus percaya juga jika kami sudah bahagia disana.”Minhwan hanya dapat mendengar suara itu.Namun ia tak menemukan sosok Hyewon.

“Hyewon-a!!!!Eomma!!!! Aku percaya surga!Dan aku percaya kalian bahagia disana!”Teriak Minhwan.Ia lalu tersenyum pada langit.

***

“Aku dimana?”Minhwan membuka matanya perlahan.

“Ah kau ini Hyung!”Sungmin memukul kepala Minhwan.

“Sinetron indonesia bener sih.Dasar authornya ini gimana sih!”Umpat Sungmin pada author.

“Kok malah gue yang disalahin sih?”Si author ngejitak Sungmin.

“Udah diem banyak bacot lo!Dari awal ngerusak suasana aja!”Akhirnya Sungmin dan author malah jitak jitakan.Si Minhwan yang masih bingung balik bobo lagi.Makin gak bener nih.Ah serius!Mulai lagi!Action

Minhwan membuka matanya perlahan .Ia melihat wajah Sungmin dan ayahnya samar.

“Kau pingsan di padang rumput Hyung.”Ujar Sungmin. #kesian banget siii mending lo pingsan di pangkuan gue dah.Si Sungmin jitak author lagi.

“Untung saja penjaga keamanan apartemen menemukanmu.”Kini ayahnya yang berbicara.Minhwan bangun dari posisi tidurnya.

“Sudah berapa lama aku pingsan?”

“Dari kemarin.”Sungmin menjitak dahi Hyungnya itu.#Heh suami sapa tuh main jitak jitak aja.Akhirnya pertarungan antara author dan Sungmin berlanjut.Ronde kedua dimulai.Minhwan dan bapak mertua nontonin sambil makan kacang.Author nampar Sungmin.Sungmin nge kiss author.Author jedotin Sungmin ke dinding.Sungmin lempar author ke Minan.Terusin aja ampe yang baca kabur.

“Lama sekali.”Minhwan tertawa.

“Hyung.Aku akan ikut ke Korea bersamamu.”Sungmin joget joget girang gara gara dia bakal ketemu Kahi after school#mimpi aje lo Sung!

“Ha?”Minhwan melongo.#Si Sungmin mulai protes lagi.Kok bahasa lo kagak bener gitu sih thor!Author yang masih ada dipelukan Minhwan gak peduli apa kata Sungmin.

“Sungmin akan tinggal di Korea bersamamu.Appa rasa itu akan lebih baik.”Bapak mertua author senyum.

“Sudah saatnya kita memulai lembaran baru.Kita harus bisa menerima kalau eomma memang sudah tak bersama kita lagi.”Akhirnya bapak mertua,Sungmin dan Minan berpelukan ala teletubbies si author ngedusel ditengah tengah.^^V

Makasi udah baca ^^ Cerita ini akan berlanjut.Bocoran.Pemeran utamanya adalah Sungmin.Soal kehidupan Sungmin di korea barengan ama suamiku tercinta #diseret Sungmin.

Sungmin:maap ya authornya harus dimasukin RSJ co_Ed school dulu bye…. thanks reader

About ftrhapsody

Nothing beats Minari's powerful rhythm when he hits the drums and his charming aegyo x_x

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s