CAST :

>>CHOI MINHWAN as himself

>>IM HYUN JO (primadonnas)

>>LEE SOO JIN (choi min hwan ex girlfriend)

>>JANG YOO MI (Hyun Jo best friend)

>>FT ISLAND member

Genre : Angst (MAYBE?),Hurt(EXACTLY :D),Romance (100% FAIL!)

Rating : G , T

Author PoV

Jemari mungil itu menyusuri setiap sisi meja. Im Hyun Jo. Dengan senyum perih yang tersungging dibibirnya, mengambil sebuah album foto. Didalamnya, potret wajah yang sama dalam berbagai pose tersimpan dengan rapi.Terlapisi dengan selapis plastik bening.Im Hyun Jo masih tersenyum memandang semuanya satu persatu . Itulah salah satu kebahagiaan yang masih dimilikinya. Setidaknya untuk saat ini ,entah nantinya akan jadi seperti apa.

Ia menarik keluar selembar foto dan mengecupnya perlahan.

Ini adalah perasaan yang mungkin dirasakan oleh sebagian besar dari kalian semua. Yang sadar bahwa sosok sosok itu tak akan mungkin bisa kalian miliki. Sebesar apapun keajaiban yang kalian harapkan , hati itu sudah tak mungkin bisa ditakdirkan untuk kalian. Yang bisa kalian lakukan hanyalah tersenyum melihat sosok itu menjalani hidup dengan bahagia. Dan menangis, meruntuhkan seluruh pertahanan, ketika menyadari jurang perbedaan yang membentang diantara kalian begitu luas. Tapi entah mengapa kalian tetap bertahan bahkan terkesan menikmati setiap jengkal perasaan sakit itu. Perasaan itu adalah perasaan. . .milik  para fans kepada idolanya.

“Hyun Jo – ya. . .Hyun Jo!!! Dimana kau?!!!” Teriak Yoo Mi dari luar kamar.

“Ah aku didalam Yoo Mi masuklah . . .”Balas Hyun Jo.

***

Flash Back

Yoo Mi dan Hyun Jo akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan. Disitulah mereka akan belajar selama beberapa jam kedepan. Duduk diam dan mendengarkan apa saja yang akan keluar dari mulut dosen. Dan mungkin akan menguap beberapa kali karena bosan. Mulai menjalani kehidupan mahasiswi mereka yang baru. Di ruangan ini, untuk pertama kalinya.

Mata Hyun Jo menangkap sosok angkuh itu, tapi ia diam saja.Berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terlihat mencurigakan dihadapan Choi Minhwan. Beberapa gadis terlihat bergerombol membicarakan Minhwan, Hyun Jo dan Yoo Mi melewati mereka begitu saja. Bukan sesuatu yang penting untuk didengarkan,pikir Hyun Jo. Hanya akan membuang waktu, bahkan untuk menguping pembicaraan gadis gadis itu. Hyun Jo sama sekali tak berminat.

Awalnya Hyun Jo memilih tempat duduk di tengah yang jauh dari tempat duduk Choi Min Hwan namun Yoo Mi menarik paksa Hyun Jo agar duduk dibelakang Choi Min Hwan dan Yoo Mi sendiri disampingnya.Mendengar suara berisik dibelakangnya Min Hwan menoleh dan memperhatikan kedua gadis itu dengan seksama.

“Kau gadis yang menabrakku tadi kan?” Mata Yoo Mi melebar. Merasa bahwa pertanyaan itu ditujukan kepadanya ia mendongak.

“Ermh. . . mianhaeyo. . .soal tadi.Aku benar benar tidak sengaja.” Choi Min Hwan terkekeh melihat wajah polos Yoo Mi yang nampak sangat merasa bersalah.Ia berdiri dari duduknya mengacak rambut Yoo Mi sekilas lalu pergi keluar kelas.Pemandangan itu membuat Hyun Jo terhenyak. Hatinya menolak apa yang baru saja dilihatnya, pikirannya menjadi semakin kacau.Yoo Mi yang tidak menyadari perubahan pada diri Hyun Jo mendesah kesal sambil merapikan rambutnya kembali.

“Hyun Jo ya ?Hyun Jo?” Yoo Mi melambai lambaikan tangannya didepan wajah Hyun Jo. Tubuh gadis itu memang sedang berada dihadapan Yoo Mi tapi entah kemana jiwanya sedang berpetualang.

“Ah, aku ke kamar mandi dulu Yoo Mi.”Ujar Hyun Jo lalu mempercepat langkahnya,pergi keluar kelas.Sesampainya di ujung koridor ia berbelok ke arah kiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Saat itu pula air matanya jatuh tanpa dapat ia bendung.

100 facts about Minhwan

Choi Min Hwan senang sekali mengacak rambut Soo Jin (kekasihnya). Soo Jin selalu saja protes ketika Min Hwan melakukannya,namun Minhwan terus saja membantah bahwa itu merupakan bentuk kasih sayangnya.

Begitulah yang dibaca Hyun Jo dalam sebuahh forum. Mengenai 100 fakta tentang Minhwan. Dan hal itulah yang membuatnya sadar. Sesuatu yang dilakukan Minhwan dihadapannya pada Yoo Mi itu tadi bukanlah hal yang sepele.

Andai saja kau tahu apa yang kurasakan saat itu. . . Hatiku tak hanya tersayat. Namun kini sudah tercabik cabik. Hancur, menjadi serpihan serpihan. Saat itu , saat aliran darahku rasanya terhenti aku sadar. Kau punya perasaan yang lain terhadapnya. Aku tidak bisa . . . aku tidak rela. Sekalipun aku ingin . . Mengatakan bahwa terserah padamu demi kebahagiaanmu.Kata kata itu tidak akan dapat keluar dari bibirku. Sampai kapanpun.

***

Author PoV

“Hyun Jo – ya. . .Hyun Jo!!! Dimana kau?!!!” Teriak Yoo Mi dari luar kamar.

“Ah aku didalam Yoo Mi masuklah . . .”Ujar Hyun Jo lemah.

Cahaya angkuh sang mentari memancar masuk bersamaan dengan pintu yang terbuka.Dan Yoo Mi dengan wajah cerianya berdiri diambang pintu, dikedua tangannya Yoo Mi membawa 2 cup mie instan yang asapnya masih mengepul. Aroma mi instan yang masih panas menggelitik indera penciuman Hyun Jo dan membuat gadis itu menoleh ke arah Yoo Mi.

“Kau memasak mi instan lagi ?”Hyun Jo mendesah pelan lalu mengambil satu cup mie dari tangan Yoo Mi.

“Hehe. . . aku harus menabung untuk membeli album baru Avenged . Maaf Hyun Jo. . . harus menyusahkanmu seperti ini.”

“Ah andwe. .  bukan begitu maksudku. Kalau kau memang sedang menabung kita kan bisa menanggung uang makan berdua untuk minggu ini.” Ujar Hyun Jo merasa tidak enak.

“Hyun Jo ya. . .  Kau selalu baik kepadaku.Gomawo Hyun Jo ya. . .” Yoo Mi lalu beringsut memeluk sahabatnya itu. Ia memeluk Hyun Jo erat hingga tak sadar helaian rambut cokelat milik Hyun Jo sudah terkungkum dalam kuah mi instan miliknya.

“Yoo Mi ! Yoo Mi ya! Lepaskan, kau mencelupkan rambutku ke dalam mie instanmu bodoh!”Teriak Hyun Jo memberontak. Yoo Mi akhirnya melepaskan pelukannya lalu memeriksa rambut Hyun Jo.

“Hehe… mianhae. . .”Ujarnya sambil menyunggingkan senyum khas seorang Yoo Mi.

“Aku baru mencuci rambutku tadi pagi dan sekarang kau membuatku harus mencucinya lagi Yoo Mi.”Gerutu Hyun Jo lalu beranjak pergi ke kamar mandi.

“JEONGMAL GOMAWOYO HYUN JO – YA!!!!!!!!!!!!!!!SARANGHAE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

“MICHEYO!!!!!” Teriak Hyun Jo dari dalam kamar mandi.Membuat Yoo Mi terkikik geli.

***

CHOI MIN HWAN PoV

Aku pergi untuk melupakannya . Tapi inilah hidup ,tuhan mempertemukanku lagi dengan sosoknya , hanya saja ia kini berada dalam raga yang berbeda

Ya memang hari ini aku tidak melihat sosok fana Soo Jin lagi. Tapi lebih parah, gadis itu benar benar mirip dengannya.Tulang wajah mereka. Tatapan mata yang begitu lembut. Sekali melihatnya saja, orang pasti bilang bahwa ia sangat mirip dengan Soo Jin.

Tapi aku masih belum berani mendekatinya.  Bagaimana nanti kalau ternyata dia seorang primadonna.Biar begini saja dulu. Kau. . . soo jin dalam sosok lain, biar aku mendekatimu dengan cara yang berbeda.Bukannya aku tidak mempercayaimu. Tapi lukaku. . . luka ini yang tidak bisa menerimamu begitu saja.

***

Hari demi hari terus berlalu. Musim demi musim terus berganti seperti tahun tahun sebelumnya. Yang berbeda kini, perasaan yang telah membeku itu mencair,bagaikan lagu yang sebait demi sebait dinyanyikan dan akan berhenti pada akhirnya. Begitulah es itu mencair sedikit demi sedikit dan akan mencair seutuhnya.Kehangatan itu bahkan sepertinya lebih hebat dari kekuatan sang surya yang dengan seluruh kearoganannya dapat meretakkan kerak bumi.

“Bagaimana kalau hari ini kita menonton?” Tawar Choi Min Hwan pada gadis dihadapannya. Hyun Jo yang berada di ambang pintu kelas masih bisa mendengar apa yang baru saja di ucapkan Min Hwan. Ia mengurungkan niatnya yang semula ingin masuk ke dalam kelas.

“Hah? Apa kau yakin? Kau tidak takut jika akan muncul gosip?”

“Jika kita pergi beramai ramai tentu tidak.”

“Maksudmu?”

“Ajak Hyun Jo pergi bersama.”

“Ummm. . . .Tapi . . .”

“Ajak saja dia.Mudah kan? “

“Baiklah.”

Biar aku  mendekatimu dengan cara yang berbeda

“Mau ku antar pulang?”

“Ah tidak usah Hyun Jo mungkin sudah menungguku untuk pulang bersama.”

“Baiklah. . . Jaga dirimu baik baik.”Ujar Minhwan lalu melangkah keluar kelas. Hyun Jo yang semula berada di ambang pintu mengendap cepat menuju kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari ruang kuliahnya.

Bukannya aku tidak mempercayaimu. Tapi lukaku. . . luka ini yang tidak bisa menerimamu begitu saja.

Yoo Mi terduduk ditempatnya.Ia menangkupkan kedua telapak tangan menutupi wajahnya. Menghela nafas dalam kepungan kesepuluh jemari mungilnya. Kenapa semua harus jadi seperti ini. Semua sikap Minhwan belakangan ini kepadanya. Dia tahu, sekalipun dia menolaknya. Tapi semua tersaji jelas dihadapannya. Minhwan menaruh perasaan padanya. Bahkan sepertinya Hyun Jo pun hanya diam, mana berani gadis itu angkat bicara jika menyangkut tentang sahabatnya. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia tahu betapa Hyun Jo sangat mengidolakan, bukan . . . bahkan perasaan itu lebih dari perasaan seorang fans kepada idolanya. Hyun Jo sangat menyukai Minhwan. Mengingat segala hal yang dilakukan Hyun Jo untuk pemuda itu. Perasaan Yoo Mi pun ikut tercabik ketika melihat Hyun Jo melepaskan kalung kesayangannya tempo hari. Kata kata Hyun Jo saat itu masih terngiang di kepalanya.

“Kenapa kau melepasnya?!Bukankah kau bilang itu kalung keberuntunganmu?”

“Hm . . . Dan akan segera menjadi kalung pembawa malapetaka jika aku pakai di hadapan Minhwan.”

Semua itu hanya demi Minhwan. . .

Dan akhirnya Yoo Mi menyerah, meraih tasnya dan pergi keluar kelas mencari sosok Hyun Jo. Sepertinya Yoo Mi kini benar benar menyerahkan segalanya pada takdir.

Gadis itu terus berjalan, sesekali kepalanya melongok mencari sosok sahabatnya. Matanya menyapu seluruh ruangan, ketika ia tidak melihat sahabatnya berada diruangan itu ia kembali pergi dan melakukan hal yang sama diruangan ruangan lain.Hingga akhirnya ia melihat Im Hyun Jo sedang duduk dibawah pohon.Rambut cokelatnya diterbangkan angin, terlihat seperti surai sang phoenix yang lembut. Kepalanya mendongak menatap garis cakrawala yang terhampar dalam jangkauan pandangannya. Yoo Mi berjalan pelan,berusaha sekeras mungkin agar langkah kakinya tidak terdengar oleh Hyun Jo. Ia tidak mau mengganggu ketenangan gadis seumurannya itu.Tapi sayangnya, pendengaran Hyun Jo begitu kuat.

“Kau sudah selesai Yoo Mi.Kenapa lama sekali membereskan buku saja. Kau ini benar benar lamban.” Umpat Hyun Jo. Yoo Mi terdiam ditempatnya. Senyuman tipis tersungging dari bibirnya.

“Kau itu benar benar menyebalkan Yoo Mi. Sudah tahu aku benar benar benci menunggu.”

“Halmoni. . . apa kau akan terus mengomel pada cucumu seperti ini? Sepertinya penyakit jantungmu akan sering kambuh jika kau mudah marah .Kau bisa cepat mati nanti. . .”Ledek Yoo Mi.

“Dasar bodoh. Aku tidak pernah merasa memiliki cucu seperti dirimu. Jika aku memiliki cucu nanti, tentunya gadis itu akan jauh lebih cantik dari mu Yoo Mi ya.” Suara tawa Hyun Jo dan Yoo Mi memecah kehening senja. Sepasang sahabat yang sudah ditakdirkan itu akhirnya melangkah pergi. Mengikuti jalan yang sudah menjadi takdir mereka untuk melangkah diatasnya.

***

Cahaya matahari yang menembus masuk lewat jendela melukis sebentuk siluet seorang gadis. Seperti bidadari. Dia duduk sambil bertopang dagu. Gadis itu memperhatikan jemarinya yang entah sejak kapan menjadi menarik. Masih dalam pose yang sama ,kini ia menggigit bibir bawahnya. Salah satu kebiasaan yang ia tiru dari orang yang paling berarti dalam hidupnya. Dia menghiraukan keriuhan restaurant saat itu. Tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mengais sesuatu dalam memorinya. Choi Min Hwan. 5 bulan sudah Ja Yun meninggalkan Seoul dan pergi ke Italy. Meninggalkan Min Hwan dan segala kenangan tentang pemuda itu. Sebersit perasaan rindu hinggap di hati Ja Yun. Mencengkeram erat jiwanya, menariknya, membelenggunya dan akhirnya hanya menyisakan pilu.

“Ja Yun. . .” Seseorang menepuk bahu Ja Yun yang sontak membuat gadis itu berjingkat kaget. Ja Yun mengelus dadanya. Mencoba menormalkan detak jantungnya.

“Mam . . .” Ujarnya. Wanita berperawakan tinggi itu hanya tersenyum lalu memberikan isyarat dengan matanya. Ja Yun segera menangkap maksud wanita itu. Ja Yun tidak mau rugi, pergi ke Italy hanya untuk belajar saja. Diwaktu senggangnya gadis itu bekerja paruh waktu disebuah restaurant yang bisa dibilang dekat dekat tempat tinggalnya. Dan kini, disaat restaurant sedang ramai seperti ini Ja Yun harusnya membantu melayani pelanggan bukannya malah duduk duduk dan memikirkan seseorang yang ingin dilupakannya.

***

Wajah itu nyaris tanpa cela. Sepasang mata teduh yang hinggap di bawah kedua alis hitam yang tergaris sempurna. Hidung indah yang terpatri diantara kedua tulang pipinya yang tegas. Dan bibir merah muda yang terlukiskan dibawahnya. Sungguh suatu karya tuhan yang tak pantas untuk dilewatkan. Helaian rambut hitam itu terlihat setengah basah dan acak acakan. Aroma sabun menguar dari tubuhnya. Sebuah handuk ia gunakan untuk menutupi pinggang hingga lututnya. Sementara handuk lainnya ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.

“Hyung. . . “ Suara itu membuat sang makhluk tanpa cela menoleh. Menunda niatnya untuk masuk ke dalam ruangannya.

“Hmm.  . . ada apa?” Tanyanya acuh tanpa memandang ke arah lawan bicaranya.

“Aku ingin bicara sebentar denganmu.Boleh?” Jonghun tidak menjawab hanya mengangguk singkat tanda ia mengiyakan. Pemuda itu lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dan Choi Min Hwan masih berdiri ditempatnya.

Entah apa yang menggerakan Minhwan untuk datang menemui Jonghun. Entah kenapa ia malah ingin menceritakan semua ini kepada Jonghun. Seakan tak bisa merasakan , tak bisa memperkirakan bahwa pasti, bahkan sudah dapat dipastikan jika Jonghun akan murka setelah mendengar penuturannya.

“Ada apa?”Pemuda itu kini sudah keluar dari kamarnya. Berdiri tegak didepan Minhwan , memandang ke luar jendela kaca besar yang membatasi udara luar dengan udara di dalam dorm.

“Aku tidak tahu kenapa aku malah ingin menceritakan hal seperti ini kepadamu hyung.” Minhwan mulai berbicara. Ia menghempas duduk pada sofa di belakangnya.Sementara Jonghun menyandarkan punggung pada dinding.

“Aku sudah menemukan pengganti Soo Jin hyung . . .”Ia tersenyum . . . pada udara.

“Hmm. . .”Sejujurnya, Jonghun terkejut. Tapi ia tak ingin menampakkannya ke permukaan. Bagaimana bisa seorang Choi Min Hwan dengan kenangannya yang begitu dalam pada Soo Jin dapat melupakannya.Ia ingin mendengar cerita lebih lanjut dari sosok dihadapannya itu.

“Dia begitu mirip dengan Soo Jin hyung.” Salah sudah semua persepsi awal Jonghun. Ia menyeringai.

“Kau belum bisa benar benar melupakannya Minhwan.”

“Aku tidak mungkin bisa melupakan Soo Jin dengan semudah itu hyung.”

“Begitupun aku , aku juga tak akan mampu melupakan gadis yang telah kau rebut dariku itu.” Ujar Jonghun, berhasil menohok perasaan Minhwan yang paling dalam. Kepala pemuda itu tertunduk. Jonghun terlihat senang melihat Choi Min Hwan dihantui perasaan bersalah seperti itu.

“Aku benar benar menyesal , pernah memperkenalkanmu pada Soo Jin.”

“Kau mengungkitnya lagi? Dulu kau bilang kalau kau sudah merelakannya untukku.” Minhwan mendongak menatap sosok hyungnya yang kini tersenyum sinis ke arahnya.

“Kau itu benar benar seperti bayi yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa.” Ujar Jonghun kemudian berlalu meninggalkan Minhwan yang masih terpekur di tempatnya.

***

Kedua pemuda itu masing masing menenteng sebuah kantung belanjaan besar. Dan herannya dengan kantung belanjaan seberat itu mereka masih bisa saling pukul. Kedua pemuda yang belum sepenuhnya menanggalkan sikap kekanak kanakan mereka. Langkah mereka terhenti ketika mendengar percakapan yang sepertinya datang dari ruang tamu. Mereka merapat pada dinding , menajamkan indera pendengaran masing masing.

“Aku tidak mungkin bisa melupakan Soo Jin dengan semudah itu hyung.”

“Begitupun aku , aku juga tak akan mampu melupakan gadis yang telah kau rebut dariku itu.”

“Aku benar benar menyesal , pernah memperkenalkanmu pada Soo Jin.”

“Kau mengungkitnya lagi? Dulu kau bilang kalau kau sudah merelakannya untukku.”

“Kau itu benar benar seperti bayi yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa.”

Dan dialog singkat itu mampu membuat Jaejin dan Seunghyun menganga lebar. Hampir saja kantung belanjaan milik Seunghyun jatuh dan berserakan ke lantai jika Hongki tidak dengan sigap menangkapnya.

“Apa menurutmu Jaejin tahu tentang ini?”Tanya Hongki pada Seunghyun.

“Ku pikir malah dia satu satunya orang yang tahu tentang ini.”

Jadi. . . ini alasan Jonghun memukul Minhwan saat itu. Hongki mulai mengerti sekarang

***

Flash Back. . .

“Oppa. . .” Sapa gadis berwajah manis itu pada Choi Jong Hun.Jong Hun tersenyum lalu berjalan mendekat ke arahnya.

“Soo Jin-ah. . .ada apa sebenarnya.Kenapa kau ingin menemuiku. Sampai sampai memintaku untuk membolos ekstra ? Ada sesuatu yang penting kah?”

Yang ditanya malah menunduk. Semilir angin menjatuhkan kelopak kelopak sakura rapuh, menghujani kedua insan itu. Cahaya lembut matahari menyelinap diantara dahan dahan pohon. Jonghun membuang pandangannya ke langit , menghela nafas lelah. Dia tahu. Pasti bukan sesuatu yang baik. Ia mengenal Soo Jin. Sangat mengenal Soo Jin.

“Aku menyukai sahabatmu oppa . . .” Benar saja. Ucapan yang keluar dari bibir Soo Jin membuat aliran darah Jonghun seakan berhenti. Jonghun hanya mampu tersenyum . . .perih.

“Choi Min Hwan. . .”Tambahnya.

Bahkan ketika kau tidak mengatakannya. Aku tahu. Bahkan kau tidak perlu memperjelasnya aku sudah mengerti. Aku memahami dirimu. Arti dari tiap tarikan nafas beratmu. Arti dari setiap gerakmu. Kau pikir sudah berapa lama aku bersamamu. Mengenalmu.Apa gelagat sejelas ini masih tidak bisa kubaca.Bak diary yang terbuka. Kau itu sangat mudah dibaca.

Soo Jin melepaskan gelang yang melingkar dipergelangan tangannya. Menarik tangan Jonghun , membuka telapaknya dan meletakkan untaian manik itu diatasnya.

“Terimakasih oppa. . .” Ujarnya lalu berbalik pergi.

“Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya Soo Jin.”Tanya Jonghun. Tubuhnya bergetar hebat, berusaha menahan amarah yang sudah mencapai ubun ubun.Gadis itu berjalan mendekat lalu menatap Jonghun tepat pada kedua manik matanya. Cairan bening jatuh menuruni pipinya, tergelincir hingga terjun bebas dan menghilang di atas tanah.

Jonghun merengkuh gadis mungil dihadapannya. Menghirup wangi tubuhnya. Berusaha mengingatnya , membingkainya dalam memory. Jonghun tidak menangis seperti hal nya Soo Jin. Dia tak mungkin menangis hanya karena hal seperti ini. Namun jika kau menyelami arti dari tatapan matanya. Kesedihan itu nyata. Kesedihan itu seakan tak berujung.

“Aku harus pergi . . .” Ujar Soo Jin melepaskan diri dari pelukan erat Jonghun.

Di balik pohon sakura. Seseorang menyaksikan adegan itu secara diam diam.

“Kenapa harus Minhwan. Seseorang yang paling Jonghun sayang dalam band kami.” Ujarnya lirih. Lee Jaejin berjalan mendekati Jonghun dan menepuk bahunya. Tersenyum menguatkan.

“Kau pasti bisa melewati ini semua. Yakinlah , ini mudah. Semudah kau merobek kertas kertas pada bukumu ketika kau salah menulis.”

“Semoga saja. “

Broke up today, we’ve broken up
If you think you can understand my heart, then please cry with me
I suppose I can’t be the one, I suppose it’s a no
How longer do I have to cry until you’ll love me properly?

#We Broke Up Today

***

Jonghun berlutut disamping sosok beku itu. Tangannya menggenggam erat tangan Soo Jin, berusaha memberikan kehangatan pada tangan dingin itu. Walau ia sadar sekeras apapun ia berusaha menghangatkannya tangan itu akan tetap dingin. Jiwa milik raga yang terbaring di hadapannya itu juga tak akan pernah kembali. Dan Jonghun hanya bisa merintih.

“Sudahlah.”Jaejin menarik tubuh Jonghun untuk berdiri.Namun sosok itu berkeras untuk tetap bertahan dalam posisinya.

“Minhwan,Hongki dan Seunghyun sudah datang Jong. Jangan sampai mereka melihatmu seperti ini.” Ujar Hongki. Akhirnya Jonghun menurut dan berdiri merapat pada dinding.

“Soo Jin-ah!!!!”Teriak Minhwan. Ia berjalan melalui Jaejin begitu saja. Namun ketika ia berada dihadapan Jonghun ,Jonghun menarik kerah bajunya. Membuat wajah Minhwan berhadapan dengan wajahnya. Dan melayangkan tinju ke arah wajah tersebut. Seunghyun dan Hongki tentu sangat terkejut dengan apa yang tersaji dihadapan mereka. Jaejin sendiri? Ia diam saja. Ia mengerti bagaimana perasaan Jonghun. Bagaimana amarah yang sudah menguasai pemuda itu. Dia mencintai Soo Jin bahkan lebih dari cintanya kepada musik, Hongki, Seunghyun, dirinya ,Minhwan maupun Ja Yun sahabat mereka.

Jonghun melepaskan Minhwan dari cengkeramannya ,kemudian berlalu.

Goodbye to you

Goodbye to everything I thought I knew

You were the one I loved

The one thing that I tried to hold on to

#Goodbye Lullaby

 

“Ini sepenuhnya bukan salah Minhwan Jong . . .” Jaejin masih terus berusaha meyakinkan sahabatnya itu.

“Ini sepenuhnya kecelakaan.”

“Kau dengar ya Jaejin! Dengar ini baik baik! Aku! Aku telah merelakan Soo Jin untuk Minhwan! Kau tahu bagaimana perasaanku! Melepas seseorang yang sangat berarti bagiku! Untuknya! Untuk si tolol itu! Dan sekarang! Dia tak hanya menyakiti Soo Jin! Tapi menghilangkan nyawanya! Menghilangnkan jiwa Soo Jin untuk selamanya.”

“Bukan Minhwan.”

“Diamlah! Aku sedang tidak ingin membahas si tolol itu!Kau mengerti Jaejin?!Sekarang pergilah jika kau masih sayang kepada nyawamu!” Bentak Jonghun sambil mendorong tubuh Jaejin keluar dari kamarnya.

Kehidupan. Kematian. Bukankah itu sudah digariskan oleh tuhan. Bahkan semenjak kita belum terlahir ke dunia ini. Bagaimana cara kita mati. Siapa yang akan menjadi malaikat maut kita. Bukankah itu misteri. Kenapa harus menyalahkan orang lain.  Cinta, bukankah cinta itu masih bisa dicari. Bukankah hidup bukan hanya tentang cinta. Cinta pada seorang manusia itu tidak abadi. Jaejin masih tidak mengerti. Tentang cinta, tentang kehidupan.

***

Dan untuk kesekian kalinya Jonghun harus mengecap pahitnya kenyataan. Ketika ia mulai dapat membingkai sosok Soo Jin dalam hatinya. Dan menutup lembaran kenangan tentangnya. Ketika ia mulai dapat mencintai sosok yang lain. Lagi lagi. . . dia dan Minhwan harus terlibat dalam kisah yang rumit ini. Minhwan menjadi peran utama lagi dalam kisah ini. Ja Yun. Untuk kesekalian kalinya. Jonghun merelakan Ja Yun untuk Minhwan. Namun kesabaran seorang Jonghun juga bisa habis, ketika gadisnya disakiti . . .

***

Author PoV

Hyun Jo menyandarkan kepala pada tiang penyangga yang berada disampingnya. Dia benar benar tidak suka menunggu. Memang ini baru 10 menit. Tapi 10 menit yang dilewatkan tanpa melakukan apa apa. . .Itu sungguh menyebalkan. Sepertinya Yoo Mi menangkap kebosanan yang melingkupi sahabatnya itu.

“Kau mau makan dulu Hyun Jo?”Tawar Yoo Mi.

“Tidak . . .aku tidak lapar.”Jawabnya lemah.

“Kalau begitu aku belikan minuman dulu ya.” Ujar Yoo Mi. Tanpa menunggu jawaban dari Hyun Jo ia langsung berjalan pergi.

“Hyun Jo – ya.” Suara yang familier membuyarkan lamunan Hyun Jo. Membuatnya menoleh ke arah datangnya suara.

Hyun Jo memicingkan matanya berusaha menajamkan indera penglihatannya. Mencoba mencari tahu siapa gerangan kedua pemuda yang kini berjalan ke arahnya itu. Hyun Jo masih menerka nerka. Apa mereka penjahat? Kedua itu mengenakan penutup kepala jaket mereka. Jarang sekali orang mau merusak penampilan dengan mengenakan penutup kepala seperti mereka berdua ini. Apalagi dengan cuaca yang terbilang cukup panas ini.

“Kau tidak mengenalku.” Choi Minhwan memiringkan kepalanya dan membuka penutup jaketnya.

“Ah . . . maaf . Ku kira siapa. “

“Kenalkan ini Jaejin.Kau pasti sudah tahu siapa dia kan?” Minhwan mengenalkan sosok disampingnya pada Hyun Jo.

Tentu. . . bagaimana bisa aku tidak mengenal nya. Aku primadonna! Fans kalian. Bisik Hyun Jo dalam hati.

“Jaejin. . .”Jaejin mengulurkan tangannya yang disambut oleh Hyun Jo.

“Im Hyun Jo.”Hyun Jo balas menyapanya, menambahkan sebuah senyuman tipis.

“Dimana Yoo Mi? Kenapa kau disini sendirian?”

“Ah.Tadi Yoo Mi pergi membeli minuman.”Mata Hyun Jo mencari sosok Yoo Mi . Dan akhirnya ia melihat seorang gadis mendekat ke arah mereka.

“Ini Hyun Jo. Seperti biasa milkshake.”Sepertinya Yoo Mi belum menyadari keberadaan Minhwan dan Jaejin.

“Ah kalian sudah datang.Maaf aku tidak melihat.Hehehehe.” Yoo Mi terkekeh.

“Filmnya dimulai sebentar lagi. Ayo kita masuk.” Ajak Minhwan ia mengenakan tudung jaketnya lagi lalu menarik lengan Yoo Mi.Benar, lengan Yoo Mi. Dan tebak siapa yang sekarang sedang berdiri mematung ditempatnya. Tebak siapa yang sedang berusaha mati matian manjaga keseimbangan tubuh dan menormalkan detak jantungnya. Darah Hyun Jo berdesir hangat. Ia memejamkan matanya. Yoo Mi masih sesekali menengok ke belakang ke arah Hyun Jo ,sahabatnya yang terlihat sangat terluka.

“Kau tidak mau melewatkan filmnya kan?”Jaejin lalu menggenggam jemari Hyun Jo.Menarik gadis itu agar mengikutinya.

“Kau menyukainya kan?” Tanya Jaejin sambil menyunggingkan senyum khasnya. Hyun Jo hanya diam. Membuang pandangannya kelangit langit.

Why should I care

Cuz you weren’t there when I was scared I was so alone

You, you need to listen I’m starting to trip,

I’m losing my grip and I’m in this thing alone

#Losing Grip

***

Yoo Mi, Minhwan,Jaejin,Hyun Jo.Begitu posisinya. Dalam kegelapan yang melingkupi ke empat insan dan seluruh penonton Hyun Jo terisak.

“Sudah jangan menangis.” Bisik pemuda itu lirih. Dada Hyun Jo bergemuruh, ia ingin sekali berteriak melegakan perasaannya. Namun yang bisa dilakukan gadis itu hanya menangis dan menangis.

“Sudahlah. . .” Suara itu berbeda. Itu bukan suara Jaejin. Hyun Jo menengok ke arah pemuda disampingnya .Choi Minhwan! Sejak kapan mereka bertukar tempat. Hyun Jo semakin tidak mengerti dengan semua ini.

“Sudah Hyun Jo. . .”Choi Minhwan mengangkat dagu gadis itu hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Choi Minhwan menatap mata gadis itu lekat lekat. Menyentuhkan bibirnya pada bibir dingin milik Hyun Jo. Memberi kehangatan disana.

“Jangan menangis.”Choi Minhwan memeluk gadis itu.

Kau lihat bagaimana aku tidak bisa mengendalikan diriku . . . Sudah kubilang aku akan mendekatimu dengan cara yang berbeda. . . Kenapa kau tidak bisa menungguku. Maaf bila kau harus terluka. Tapi mulai saat ini akulah satu satunya orang yang akan melindungimu. Im Hyun Jo.

Jaejin dan Yoo Mi saling tersenyum satu sama lain.

“Jadi ini alasannya.Hehehehe” Yoo Mi terkekeh pelan.

Ada sesuatu yang mengganjal di hati Jaejin. Minhwan melihat sosok Hyun Jo sebagai Soo Jin. Bukankah itu malah akan menyakiti Hyun Jo nantinya. Tapi entahlah.Biarlah waktu dan takdir yang memberi kelanjutan pada kisah mereka.

Is she just some chick you place beside you to take somebody’s place?

Seseorang disamping Hyun Jo menyeringai. Ia lalu berdiri dan meninggalkan gedung bioskop itu. Choi Jonghun.

***

 

About ftrhapsody

Nothing beats Minari's powerful rhythm when he hits the drums and his charming aegyo x_x

2 responses »

  1. dcyjonghunnie says:

    part 2 yeayy,yeayy tp mau bobo dlu,wkwk

  2. ftrhapsody says:

    xD wwkwkwk review ne ??? :9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s