CAST :

>>CHOI MINHWAN as himself

>>IM HYUN JO (primadonnas)

>>LEE SOO JIN (choi min hwan ex girlfriend)

>>JANG YOO MI (Hyun Jo best friend)

>>FT ISLAND member

>>KANG HYE NA (Park Bo Young – Jaejin ex)

Genre : Angst (MAYBE?),Hurt(EXACTLY :D),Romance (100% FAIL!)

Rating : G , T

                I DON’T OWN MINHWAN AND FT ISLAND CHARACTERS HERE. THEY BELONG TO THEMSELVES, THEIR PARENTS AND GOD🙂 IM HYUN JO LEE SOO JIN JANG YOO MI AND KANG HYE NA CHARACTERS ARE FICT MADE BY ME. DO NOT COPY THIS FANFICTION IN OTHER PLACES WITHOUT MY PERMISSION. THANKS🙂

Author PoV

 

                Sesempurna apapun gadis itu membingkai lekuk wajah dan perangai Soo Jin dalam dirinya. Mereka tak akan pernah sama. Soo Jin tidak memiliki keegoan seperti yang ia simpan dalam hatinya.Ini pilihanmu.Aku tidak mau ikut campur.Semua ini lepas dari tanggung jawabku.Choi Min Hwan. Berbahagialah dengan ‘Soo Jin’mu.

Author PoV

                Choi Jong Hun mengangkat gagang telepon yang sedari tadi berdering nyaring mengusik tidur siangnya. Dengan malas ditempelkannya benda hitam itu pada telinga dan sepanjang sisi wajahnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya menyapa sang pengganggu istirahatnya.

“Yoboseyo. . .nuguseyo . . .ehh?” Jonghun menggeliat.

“Jonghun-ah. . .”Sapa seseorang diseberang. Suara itu, suara itu  telah membaur dengan setiap tarikan nafas Jonghun selama ini. Dan menjadi semakin menyatu dengan irama denyut kehidupannya beberapa tahun belakangan.

“Ja Yun-ah. . .”

“Jonghunnnnnnnnn. . . “Logat khas Ja Yun yang mampu membuat sang cassanova hanyut dalam riaknya. Jonghun hanya diam, tersenyum sembari menatap untaian awan yang berarak menyudutkan surya dan mengiringi bulan bergulir perlahan menempati tahtanya.

“Aku merindukanmu Jonghun.” Dia berujar pelan. Meratakan seluruh kemampuan Jonghun untuk berkata kata. Jonghun masih diam. Bibir indahnya masih terkunci. Kedua manik coklat kehitaman itu kini beralih mengamati kelopak mawar yang mengambang dalam bejana kecil di atas meja ruang tamu.

“Kenapa kau hanya diam?”

“Lalu aku harus berkata apa?”

“Haha. . . kau ini selalu saja.Bagaimana keadaanmu?”

“Kenapa basa basi seperti itu?”

“Maksudmu? Kau ini kenapa Jonghun.” Tanya Ja Yun heran.

“Kau ingin menanyakan Minhwan kan?”

“Sejak kapan kau berubah menjadi cenayang seperti ini.”

“Hahahaha. . .”Tawanya hambar terburai bersama udara.

                “Jangan khawatir, dia baik baik saja.”Jonghun melanjutkan pembicaraan. Terdengar suara decakan kesal dari ujung telepon.

“Kenapa kau ini? Bukankah aku menanyakan keadaanmu Jonghun?!” Nada suara Ja Yun meninggi.

“Untuk basa basi saja kan?”

“Terserah kau saja lah.” Ja Yun lalu menutup teleponnya dengan kasar. Dan saat itulah Choi Jonghun sadar ia telah melakukan sebuah kesalahan besar.

I didn’t know, but I know now that I need you. I’m so sorry, but I love you, out of anger. I pushed you away with those piercing words without realizing. I’m so sorry

***

Helaian rambut hitam itu tercacah oleh hembusan lembut sang bayu. Pemiliknya tetap diam tak terusik. Kedua tangannya disilangkan didepan dada.Tubuhnya bersandar nyaman pada bangku lapuk yang didudukinya.

Lee Jae Jin, bibir tipisnya tersenyum entah pada siapa. Pemuda itu memang sudah sangat lama tak bertandang ke tempat ini. Sekedar menyesap coffe latte sembari menikmati keindahan langit malam atau mengunjungi bibi pemilik kedai.

“Jae Jin –ssi.” Seseorang menepuk bahu Jaejin perlahan.Pemuda itu menelengkan kepalanya.

“Ah ahjumma.”Ia terlihat mengangguk sekilas, sekedar untuk menunjukkan rasa hormat. Wanita paruh baya itu menyeret kursi dihadapan Jaejin, kemudian duduk diatasnya.

“Lama tidak melihatmu. Melihat bangku ini kosong selama kau tak datang kemari rasanya seperti ada yang kurang.”

“Ah ahjumma . . .”Jaejin terkekeh , jemarinya meraih cangkir di atas meja menghirup aroma minuman itu sekilas lalu beranjak menyesapnya. Kehangatan segera menjalar pada kerongkongan Jaejin.

“Tak pernah ada yang berubah dari kedai ini sejak pertama kali aku kemari.”

“Ya . . . dari awal kau kemari.” Bibi pemilik kedai menerawang, seperti sedang mengingat sesuatu.

“Menyelinap ke dalam kamar mandi orang dengan kekasihmu. Sangat mencurigakan.”

“Ya. . .aku ingat .”  Jaejin ikut menerawang, berusaha mengais sisa sisa kenangan pahit yang pernah terjadi dalam hidupnya.

FLASH BACK

Jaejin menarik lengan gadis itu kasar. Tangannya kini ikut berlumuran darah yang berasal dari tangan gadis dalam dekapannya. Tapi Jaejin sudah benar benar tak perduli pada cairan kental ditangannya .Yang penting sekarang ,ia harus menyembunyikan keberadaan gadis itu.

“Diam disini.Jangan menangis.”Ujarnya sambil mendekap erat sosok Hye Ra yang terus berderai air mata. Membenamkan wajah gadis itu pada dadanya.

Jaejin-ah. . .”Rintihnya Hye Ra

“Diam . . . mereka pasti mencarimu.”

“Jaejin-ah. . .mianhae . . .”Airmatanya terus berlinang menyatu dengan cairan anyir yang berwarna merah dan kental.

“Semua sudah terlanjur Hye Ra.” Jaejin terus mendekap tubuh gadis nya. Jantungnya berdegup kencang. Bahkan Hye Ra pun dapat merasakan tiap detakan menembus kepekaan indera pendengarannya.

“Ayo pergi.”Jaejin kembali menarik Hye Ra untuk mengikutinya.Gadis itu berjalan tertatih mengikuti langkah cepat kaki Jaejin.

Tidak mau mengambil resiko akhirnya Jaejin membawa Hye Ra menyusuri gang gang kecil. Sesekali mereka perlu berjalan menyamping karena lorong jalan tak cukup digunakan untuk melangkah dengan nyaman. Pekatnya langit membuat langkah mereka terasa semakin berat. Karena jarak pandang yang semakin menciut. Akhirnya Jaejin dan Hye Ra berhenti di hadapan pintu belakang sebuah kedai.

“Berdoa saja . . .semoga pemiliknya tidak memergoki kita.”Ujar Jaejin lalu membawa Hye Ra masuk. Mereka segera berjalan mencari kamar mandi. Suara gemericik air segera terdengar ketika Jaejin menyusut noda darah yang melumuri sepanjang lengan Hye Ra.

Bruk!Pintu kamar mandi kini terbuka lebar.

“Siapa kalian?”

Bibir Jaejin kelu. Dalam hati ia berharap agar malaikat maut mencabut nyawanya saat itu juga. Tubuh Hye Ra tiba tiba saja ambruk.

“Ah . . .” Pekik bibi itu , ia kemudian menyuruh Jaejin untuk membaringkannya diatas sofa.

“Kau harus menjelaskannya kepadaku anak muda. Orang lain mungkin akan langsung melaporkanmu kepada polisi jika memergoki kedua orang yang tidak ia kenal menyelinap ke dalam kamar mandinya.”

“Maaf ahjumma . . .bisakah kau memberiku segelas air.” Ujar Jaejin lemah, sebelum akhirnya ia pun ikut tak sadarkan diri.

***

Jaejin akhirnya menceritakan segalanya , tentang pembunuhan yang dilakukan Hye Ra pada kekasih sahabatnya. Choi Min Hwan. Jaejin menceritakan semuanya dengan sangat detil tanpa melewatkan bagian manapun.

Semua itu berawal dari kecemburuan Hye Ra . Bukan Jaejin yang ia inginkan sebenarnya, tapi Choi Min Hwan. Dia mendekati Jaejin hanya agar ia dapat mengenal sosok Choi Min Hwan lebih dalam, ia mengorek semua informasi tentang Minhwan dari Jaejin- yang tidak keberatan untuk memaparkannya karena Jaejin merasa tidak ada yang harus ditutup tutupi. Kenyataan itu sesungguhnya telah menghancurkan perasaan Jaejin.Membuat hati pria tegar itu remuk.

“Mianhae Jaejin-ah.”Hye berlutut sembari memegang kaki Jaejin erat. Bibi pemilik kedai mengangkat tubuhnya untuk duduk kembali.

“Kau tahu Hye Ra . Semua ini memang menyakitkan. Sesungguhnya aku ingin kau ditangkap saja tadi. Tapi aku bisa apa? Aku terlalu menyayangimu.” Jaejin berujar lirih. Tatapan matanya kosong.

“Aku akan menyerahkan diri.” Ujar Hyera mengambang.

“Terserah kau sajalah.”Ujar Jaejin lalu berdiri pergi meninggalkan kedai.Hye Ra menangis dalam pelukan bibi pemilik kedai yang baru dikenalnya.

I’ll begin erasing your name for sure
I’ll erase everything

letting go of everything in here
I just bluffed
and I knew that it was good bye

***

Keesokan harinya dikabarkan bahwa pembunuh kekasih Choi Min Hwan telah tertangkap. Namun gadis itu ternyata mengalami gangguan jiwa yang kini membuatnya harus dirawat di tempat rehabilitasi. Jaejin sangat terpukul mendengarnya. Kekasihnya Kang Hye Ra. Adalah seorang phsycopat. Namun pemuda itu hanya bisa diam. Dia tidak ingin semua ini menjadi bahan pembicaraan khayalak. Bahkan sesungguhnya tidak ada yang pernah tahu bahwa Hye Ra adalah kekasih Jaejin. Baik itu member ft island apalagi pers. Jaejin tak pernah mau menceritakannya. Dia selalu mengunci mulutnya rapat rapat.

FLASH BACK _ END

***

“Bagaimana keadaannya sekarang Jae?”Tanya bibi pemilik kedai.

“Tidak ada kemajuan. Bahkan kemarin kudengar ia sempat berusaha untuk bunuh diri.”

“Astaga . . .”Bibi itu menangkupkan kedua telapak tangannya didepan bibir. Matanya menyipit , ikut bersimpati.

“Semenjak kejadian itu Min Hwan menjadi sangat terpukul . Ia sepertinya tidak memiliki semangat untuk hidup lagi. Tapi kini aku sangat bersyukur karena ia telah mendapat kekasih baru.”Hening . . . hanya suara angin yang berbisik perlahan.Tangan bibi pemilik kedai bergerak meraih tangan dingin Jaejin.

“Aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri. Kapanpun kau mau. Kau bisa kemari menceritakan segala nya padaku.” Jaejin hanya diam. Tak menanggapi kebaikan hati bibi pemilik kedai itu. Pikirannya masih tertinggal di masa lalu dalam memoar menyakitkan itu.

“Ahjumma. . .Bukankah hidup itu bukan hanya tentang cinta?”

“Aku bukanlah orang yang cukup cerdas dan bijak untuk menjawab pertanyaanmu ini Jaejin. Tapi hidup memang untuk cinta. Mencintai dan dicintai. Tak peduli siapa yang kita cintai dan siapa yang mencintai kita. Selama cinta masih ada, hidup kita akan menjadi lebih berarti. Setidaknya kita akan merasa masih ada yang perlu diperjuangkan, measa bahwa masih ada orang yang membutuhkan keberadaan kita. Mengetahui bahwa orang lain perduli terhadapmu,  itu sungguh membuat hati merasa tenang dan lega. Coba kalau kau tidak memiliki orang yang kau cintai, bukankah hidupmu akan terasa hampa. Dan akan muncul rasa ingin mati saja, untuk apa hidup di dunia lagi. Toh sudah tak ada yang memerlukanmu. Bukan begitu?”

“Bagiku hidup hanyalah untuk menjalani takdir yang telah digariskan ahjumma. . .Jadi ada cinta ataupun tidak. Aku akan tetap hidup sampai takdir yang menuntunku menemui ajal.” Tandas Jaejin yang membuat bibi pemilik kedai tersenyum simpul.

“Cinta itu bukan hal yang abadi.” Terus Jaejin.

“Kecuali cintamu untuk tuhan.”Bibi pemilik kedai berdiri dan menyentuh lembut puncak kepala Jaejin. Jaejin kembali terdiam. Sudah malas beradu argumen dengan bibi pemilik kedai. Ia lebih memilih menikmati sentuhan wanita itu, tangan putihnya yang mengusap kepala Jaejin secara perlahan. Membangkitkan memori tentang ibunya yang telah tiada.

SUMMER MESSENGER TOUR

Kelima member FT ISLAND itu tersenyum lebar setelah melihat sederet huruf tercetak  pada selembar kertas. Pagi yang indah, ketika cahaya matahari meringsek masuk lewat jendela. Menimpa sosok sosok idola itu. Kelima member FT Island beserta managernya sedang berada di ruang tamu. Mendiskusikan tentang tour musim panas mereka ke Jepang.

“Tour ini akan kita lakukan selama sebulan. Bertepatan dengan libur musim panas kuliah kalian.” Ujar pria yang berusia dikisaran 40 tahunan itu.

“Jadi tentu tidak akan mengganggu.”

“Aaaaa akhirnyaaa.Setelah sekian lama.Kita bisa mengadakan tour lagi.”Jaejin meregangkan otot ototnya .Senyumnya merekah lebar.Bak bunga matahari yang dengan agung mempertontonkan kelopak kuningnya yang indah.

“Tour ini akan sangat melelahkan. Jaga kesehatan kalian.Latihan akan dimulai minggu depan.”Ujar pria itu sebelum akhirnya berjalan keluar dorm.

***

Mata gadis itu terkunci pada mangkuk makanan miliknya. Hingga ia tak menyadari kedatangan seorang pemuda yang kini telah duduk dihadapannya. Pemuda itu tak henti hentinya mengulum senyum,lebih tepatnya menahan tawa. Karena wajah Yoo Mi yang begitu konyol sedang tersaji dihadapannya.

“Jadi sekarang mangkuk makananmu itu lebih tampan dariku.” Gadis itu berjingkat kaget, mengelus dada dan menggerutu kesal.

“Ya! Kenapa kau mengagetkanku seperti ini.”Bentak Yoo Mi pada Jaejin.

“Kenapa kau duduk sendirian?”Jaejin tak menanggapi bentakan Yoo Mi.

“Cih, sudah tahu masih saja bertanya. Lihat itu! Bagaimana bisa aku mengganggu mereka.”Yoo Mi melirik ke arah meja tempat Minhwan dan Hyun Jo duduk bersama. Jaejin terkikik sambil memegangi perutnya.

“Oh ya, kenapa kau kemari?” Tanya Yoo Mi sambil menatap penuh tanya ke arah Jaejin.

“Untuk menemuimu?! ”Jaejin mengangkat sebelah alisnya. Yoo Mi mendengus kesal.

“Sudahlah jangan bercanda.Ini bukan tempat kuliahmu. Kenapa kau kemari?”Yoo Mi mengulang pertanyaannya.

“Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan Minhwan.”Jaejin menyambar gelas minuman milik Yoo Mi dan meneguknya hingga habis tak tersisa. Yoo Mi menganga lebar.

“Ya! Kenapa kau menyebalkan sekali!” Jaejin tertawa melihat ekspresi Yoo Mi.

“Memangnya apa yang ingin kau bicarakan dengan Minhwan?”

“Tentang Summer Messenger Tour kami.”

Telinga Hyun Jo menangkap suara Jaejin. Jelas jelas ia melihat pemuda itu sedang duduk tak jauh dari tempatnya.

“Oppa. . . Jaejin?” Hyun Jo menunjuk ke arah Jaejin. Minhwan hanya meliriknya sekilas, dia sebenarnya sudah menyadari keberadaan Jaejin sejak tadi.

“Oh ya Hyun Jo. Mungkin untuk 2 bulan ini,kita tidak akan bisa sering sering bertemu.” Minhwan terlihat seperti baru mengingat sesuatu.

“ Memangnya kenapa?”

“ Aku harus mempersiapkan diri untuk tour ke Jepang musim panas nanti.”

“Ah iya,aku mengerti. Jaga kesehatanmu.” Senyum manis tersungging di bibir Hyun Jo. Rasanya syaraf syaraf Minhwan menjadi lumpuh seketika. Ia segera memutuskan untuk pergi sebelum ia benar benar kehilangan kemampuannya untuk berdiri.

“Kau juga, Cantik. Aku harus pergi dulu. Ada yang harus ku bicarakan dengan Jaejin. Sampai bertemu besok.” Minhwan mengacak rambut Hyun Jo sekilas lalu pergi ke tempat Jaejin dan Yoo Mi duduk.

***

Hyun Jo & Yoo Mi House

Yoo Mi dan Hyun Jo bersamaan merebahkan tubuh mereka pada lantai kayu. Menghela nafas panjang lalu menghembuskannya keras keras. Mereka saling menatap manik mata masing masing, lalu akhirnya tertawa bersamaan. Cahaya matahari sore malu malu menerangi ruangan kecil rumah Yoo Mi dan Hyun Jo. Seolah ingin ikut berbagi kebahagiaan bersama sepasang sahabat itu.

“Minhwan bilang dia tidak akan bisa sering sering bertemu dengan ku untuk dua bulan kedepan. Dia harus mempersiapkan Summer Messenger Tournya. Haha. Aku sudah tahu tentang Summer Messenger Tour itu sebelum dia mengatakannya tadi.”

“Kau terlihat gembira sekali Hyun Jo.”

“Oh ya. Dan Summer Messenger Tour ini akan dilaksanakan di Jepang. Dan aku akan membeli tiket untuk konser di Budokan . “

“Ah benarkah? Tsk aku juga ingin pergi kesana! Kau tahu? pergi ke Jepang adalah impianku.Ah tapi aku kan tidak bisa bahasa Jepang dan tidak semua orang Jepang juga bisa bahasa Inggris aku akan kesulitan tentunya. Dan kau tahu sendiri kan bahasa inggrisku juga tidak terlalu lancar. CONVENIENT!” Yoo Mi terus mengeluh sambil mengerucutkan bibir mungilnya.

“Aku akan membeli dua tiket untuk mu dan untukku !? “

“Apa ?” Mata Yoo Mi melebar.

“Itu artinya kita akan pergi ke Jepang bersama?”

“Ya tentu saja.” Hyun Jo bangkit dari posisi tidurnya begitu juga Yoo Mi.

“Ah. . . terimakasih Hyun Jo.”  Yoo Mi lalu beranjak memeluk Hyun Jo yang tersenyum dari balik punggung Yoo Mi.

“Tapi kau bayar sendiri biaya pesawatmu.” Kata kata terakhir Hyun Jo membuat Yoo Mi meliriknya kesal.

“Hey, setidaknya kau punya guide gratis disini dan juga tiket konser gratis. Apa susahnya meminta uang pada Han Kang ahjussi .  Dia pasti mau memberimu uang.  Kau putri kesayangannya.” Hyun Jo menepuk lengan Yoo Mi.

“Baiklah masalah tiket pesawat bisa diatur. Hahaha. . . .”  Wajah Yoo Mi kembali berseri. Yoo Mi kembali tenggelam dalam fikirannya sementara Hyun Jo beranjak entah kemana.

Yoo Mi kembali mengingat kenapa ia dan Hyun Jo harus hidup seperti ini. Alasan Yoo Mi dan Hyun Jo pindah ke Seoul dan hanya menyewa rumah tinggal kecil bukan karena mereka tidak mampu untuk menyewa apartemen. Alasan Yoo Mi dan Hyun Jo menghemat pengeluaran untuk membeli barang barang yang mereka inginkan juga bukan karena mereka tidak mampu untuk membelinya. Yoo Mi dan Hyun Jo berasal dari keluarga yang cukup berada. Jika mereka menginginkan sesuatu semua sebenarnya bisa dituruti. Namun Hyun Jo dan Yoo Mi bukanlah orang yang seperti itu, yang senang menghamburkan uang orang tua mereka. Sehingga, dari sekolah menengah mereka sudah belajar untuk menghemat dan hidup sederhana. Hanya sesederhana itu alasan mereka. Mereka hanya tidak mau terlena dengan harta yang orang tua mereka miliki.

Yoo Mi tersenyum pada langit langit rumah . Dia merasa sangat beruntung memiliki Hyun Jo yang selalu ada untuknya. Sahabat yang begitu baik dan setia.

“Hei bodoh. Kenapa tersenyum sendiri seperti itu. Lihat ini. Bagus tidak?” Hyun Jo yang tiba tiba datang membuyarkan lamunan Yoo Mi. Ditangan Hyun Jo kini telah ada seutas kalung.

“Bagus. “

“Aku membuatnya sendiri.” Ujar Hyun Jo bangga .

“Benarkah? Tapi jarang jarang kau membuat kalung seperti itu? Mana liontin hello kitty yang biasa kau pasang . Atau manik manik yang biasanya memenuhi sepanjang tali?”

“Kalung ini akan kuberikan pada Minhwan. Aku tidak mungkin memberi Minhwan kalung manik manik atau pun yang berliontin hello kitty. Kau mengerti YOO MIII?!” Hyun Jo membelalakkan matanya. Yoo Mi hanya menggeleng .

“Terserahlah.”

“Kenapa jadi tidak bersemangat seperti itu? Masih memikirkan tentang tiket pesawat?” Hyun Jo bertanya lalu terkekeh.Yoo Mi memandang ke arah sahabatnya itu sekilas lalu mendekap tubuh Hyun Jo erat.

“Terimakasih Hyun Jo kau selalu ada untukku. Kau adalah sahabat terbaikku. Terimakasih untuk selalu mengatakan bahwa setidak berguna apapun aku di mata orang lain ,namun aku selalu bisa membuatmu tertawa. Terimakasih Hyun Jo untuk semuanya.” Yoo Mi semakin mempererat pelukannya. Hyun Jo hanya bungkam ia masih kaget dengan kata kata Yoo Mi barusan. Ia terharu .

Tiba tiba ponsel milik Yoo Mi berdering. Sehingga ia harus melepaskan pelukannya.

“Yoboseyo?”

“Jaejin ?”

“Apa? Pergi bersamamu? Bersama Hyun Jo? Tidak? Apa kau gila?! Sepuluh menit lagi? Hei hei jangan kau tutup dulu teleponnya!” Namun percuma Jaejin sudah menutup panggilan teleponnya.

“Jaejin mengajakku pergi.Jaejin mengajakku pergi berdua dengannya. Cih orang menyebalkan itu.” Yoo Mi mendengus kesal. Hyun Jo hanya tersenyum menyadari semburat merah yang muncul di pipi Yoo Mi.

“Kau menyukainya. Aku tahu itu. Karena aku adalah sahabat terbaikmu.” Ujar Hyun Jo seraya menyentuh hidung Yoo Mi dengan telunjuknya.Yoo Mi hanya menunduk, tidak memahami bagaimana perasaannya bisa menjadi seperti ini.

***

Mobil silver itu berhenti tepat didepan rumah Yoo Mi dan Hyun Jo, dari dalam keluarlah seorang pria berambut blonde yang membuat sepasang mata milik Yoo Mi terbelalak lebar. Ditambah lagi pria itu mengenakan masker dan jaket.  Tapi Yoo Mi tahu siapa dia, Yoo Mi mengenali sepasang mata milik Jaejin.

“Kenapa kau merubah warna rambutmu.”Ia tertawa sambil berpegangan pada bahu Jaejin.

“Hahahaha! Terlihat seperti anjing.Hahahaha.”

“Ya! Kenapa kau mengataiku seperti anjing!”

“Sebelumnya kau kelihatan seperti kambing sekarang dengan rambut seperti itu kau mirip anjing .Lucu sekali hahahaha!”

“Sudahlah percuma bicara denganmu. Masuklah. Kita akan pergi ke suatu tempat.”

“Hmm.” Yoo Mi menurut lalu beranjak masuk ke dalam mobil.

Mobil milik Jaejin melaju sementara itu Hyun Jo baru saja keluar dari dalam rumahnya. Sebelum berjalan pergi ia memastikan pintu rumah sudah dikunci. Ia lalu berjalan menuju halte. Pergi ke sebuah tempat untuk bertemu Minhwan.

***

Jaejin memarkir mobilnya di sebuah kedai.

“Jaejin, kau kemari lagi?”Tanya bibi pemilik kedai.

“Aku akan lama disini nanti tapi sekarang aku harus pergi dulu bibi.”

“Ah aku mengerti. Dia kekasih barumu?”Tanya bibi itu , Yoo Mi melirik ke arah Jaejin.

“Ya.”Jawab Jaejin singkat lalu berjalan pergi.

“Hey! Aku bukan ke. . “ Jaejin menutup mulut Yoo Mi dengan sebelah tangannya. Membuat sederet kalimat yang akan diucapkannya menggantung ditenggorokan.

“Ah! Kenapa kau mengatakan hal seperti itu.”

“Bibi akan terus mengkhawatirkanku selama aku belum memiliki kekasih baru.”Ujar Jaejin sambil terus menatap ke arah jalan.

“Ayo jalan cepat sedikit. “Jaejin menarik lengan Yoo Mi. Membuat gadis itu berjalan menjajarinya.

“Hey! Pelan sedikit , kau pikir mudah berjalan mengenakan dress!”

“Salah siapa . Tahu begitu tadi kenapa kau tidak memakai celana saja. Atau kostum badut sekalian.”

“Menyebalkan!”

Jaejin tidak menanggapi Yoo Mi ia hanya terus berjalan menuju ke sebuah tempat dimana kenangan pahit itu berada. Bukan, bukan dalam hatinya. Tapi di tempat Soo Jin dibunuh oleh Hye Na. Mata Jaejin kini dipenuhi air mata, yang berusaha dipertahankannya agar tidak sampai jatuh. Yoo Mi menoleh sekilas ke arah Jaejin. Dan melihat mata pria itu berkaca kaca. Tapi ia memutuskan untuk tetap diam. Walau sebenarnya rasa penasaran dalam hatinya bergejolak hebat. Yoo Mi bertanya tanya.Namun ia akhirnya memilih untuk mengalihkan pandangan ke lain arah. Sambil terus berjalan, ia tidak menyadari kehangatan di sela sela jarinya berasal dari jemari milik Jaejin yang sedari tadi terus menggandengnya.

“Tempat ini dulu . . . tempat dimana Soo Jin meninggal.” Ujar Jaejin lemah ketika mereka tiba didepan sebuah gang.

“Kekasih Minhwan?”

“Hmm.” Jaejin mengangguk. Semua kenangan itu berkelebat diotaknya, mengempaskannya ke sebuah dimensi lain. Sebelum ia tenggelam terlalu dalam Yoo Mi menyentuh bahunya.

“Mmm. . . Jaejin. Kalau boleh aku tahu kenapa kau mengajakku kemari?”

“Tidak apa. Aku hanya ingin kau mengetahuinya saja. Tidak mungkin jika aku menunjukkannya pada Hyun Jo.” Jawab Jaejin.  Aneh , pikir Yoo Mi.

“Lalu? Kau masih ingin disini? Atau kita pergi ketempat lain? Tidak baik selalu mengingat kenangan kenangan masa lalu seperti ini.”

“Kita pergi ke tempat lain saja.” Jawab Jaejin berat.

“Kalau begitu ayo kita pergi .” Ajak Yoo Mi lalu mendahului beranjak dari tempat itu. Jaejin tersenyum sekilas. Ia lalu berjalan menjajari Yoo Mi melepaskan jaketnya dan menalikan lengan jaketnya pada pinggang Yoo Mi.

“Kau itu memang benar benar bodoh.”

“Hei? Kenapa? Ada yang salah?”

“Jangan pernah menggunakan dress berwarna putih lagi.” Ujar Jaejin lalu terus berjalan mendahului Yoo Mi. Yoo Mi berlari lari kecil berusaha menjajarinya.

“Beritahu aku? Ada yang salah.”

“Bagaimana aku harus memberitahumu. Aku tidak tahu cara memberitahumu.”

“Memangnya kenapa?” Yoo Mi terus bertanya. Jaejin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia lalu menunjuk ke bagian belakang Yoo Mi.

“Itu. . . ada noda.Berwarna merah. Di bagian belakang dressmu. ” Jawab Jaejin yang langsung membuat Yoo Mi tertunduk malu. Pipinya terasa panas seketika. Yoo Mi lalu menangkupkan kedua telapak tangannya diwajah. Jaejin tersenyum, lalu membenamkan wajah Yoo Mi ke dadanya. Jaejin memeluk Yoo Mi erat.

Hye Na. . .

Dulu. . . aku memelukmu seperti ini. Namun dalam situasi yang berbeda.Sekarang aku memeluknya. Dia begitu mirip denganmu. Tapi dia berbeda.

“Aaaa memalukan.”

“Sudahlah kau bisa membersihkannya nanti.” Jaejin mengecup puncak kepala Yoo Mi sekilas lalu menggandeng lengan Yoo Mi dan kembali berjalan.

***

Sementara itu disebuah restaurant yang sepi pengunjung. . .

Choi Min Hwan membenarkan letak kacamatanya. Tetap mempertahankan posisi , meletakkan kepalanya diatas meja. Berdecak kesal ketika menyadari jam sudah menunjukkan pukul 13.30 ‘Kenapa Hyun Jo lama sekali.Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya.’

“Maaf aku terlambat.” Hyun Jo mengempas duduk dengan nafas terengah.

“Akhirnya, kau tahu sudah berapa lama aku menunggumu. Tadi kan sudah aku bilang jika memang ingin bertemu biar aku menjemputmu sa. . .”

“Sudahlah! Kau tidak tahu cuaca diluar panas. Aku menunggu bus lama sekali. Kenapa kau masih menyalahkanku juga.” Ada nada marah tersirat dari ucapannya.

“Mianhae. . .Aku hanya khawatir padamu.”

Hyun Jo masih terengah berusaha mengatur nafasnya.

“Aku pesan minuman dulu untukmu.”Minhwan lalu beranjak membeli sebotol air mineral. Segala jenis minuman yang ditawarkan restaurant kecil ini semuanya meragukan. Tapi entah kenapa sepertinya ada faktor lain yang membuat Choi Min Hwan membeli sebotol air mineral.

Minhwan menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Hyun Jo. Hyun Jo hanya diam, berulang kali menatap ke arah Minhwan lalu berganti ke arah air dihadapannya.

Aku bukan Soo Jin. Aku bukan orang yang gila dengan air putih.

“Aku tidak bisa minum air mineral.”Ujar Hyun Jo singkat ditambah senyuman tipis.

“Aku ingin memberikan ini.”Ujar Hyun Jo seraya mengeluarkan sebuah kotak kecil.

“Boleh aku buka?”Tanya Minhwan , mengulum senyum. Membuat kedua matanya semakin terlihat sipit.

“Tentu saja.Itu untuk mu.”

“Kalung?”

“Akan ku kenakan saat tour.” Ujar Minhwan ,ia menatap sepasang mata Hyun Jo dalam.

***

BUDOKAN

Tour Summer Messenger telah berjalan beberapa waktu. Setiap penampilan berjalan lancar hingga akhirnya mereka tiba pada penghujung bulan. Yang berarti Final Summer Messeger Tour harus segera dilaksanakan. Budokan. Disanalah mereka akan menghelat penutupan tour kali ini.

“ Ya, Jong. aku tahu tempatnya. Memangnya mau apa aku berlama lama di Korea? Ayah dan Ibuku juga sedang pergi berlibur. Hahaha… musim panas sepertinya telah menjadi sesuatu yang sangat spesial di negara kita.”

“Jadi kapan kau akan berangkat?”

“Besok pukul 9 waktu korea. Jepang tidak jauh Jong. Tenang saja . . . aku akan segera menyusul kalian. “

“Kau harus jaga diri baik baik.”

“Jonghun –ah sahabatku yang paling manis. . . Aku kenal Budokan. Aku mengerti seluk beluk kota itu. Aku tinggal disana mulai dari lahir sampai aku duduk di sekolah dasar.”

“Iya iya . . . tapi kau kan sudah lama tidak pergi kemari. Kau kan tidak tahu bagaimana Budokan sekarang.”

“Sepertinya kau sangat mengkhawatirkanku ya?Hahahaha.”

“Itu karena aku sangat menyukaimu. Dan aku tidak akan pernah membiarkan orang yang kusukai itu terluka. . .”  Kata kata itu mampu membekukan udara disekitar Ja Yun. Bibirnya terkatup rapat dan Ja Yun tak lagi mampu berkata kata.

“Jong. . .”

“Aku serius Ja Yun. Cepatlah pergi kemari. Aku merindukanmu. Aku ingin mengatakan ini secara langsung padamu. “

“Tapi Jong. . .”

“Lupakan Minhwan dia sudah memiliki kekasih baru. Apa kau masih terus ingin menikmati rasa sakit itu Ja Yun? Lupakan dia. Aku yang akan menjadi pelindungmu.” Klik.Telepon ditutup. Suara Jonghun melenyap begitu saja, bersamaan dengan beribu pertanyaaan yang kini berdentum dentum dikepala Ja Yun.

***

Final Summer Messenger Tour

Hyun Jo dan Yoo Mi berdiri diantara ribuan primadonna lainnya.Di ruangan yang sangat luas itu Hyun Jo dan Yoo Mi bisa merasakan tubuh mereka seakan sedang melayang. Yoo Mi sangat senang karena akhirnya ia bisa pergi ke Jepang dan Hyun Jo tentunya ia sangat senang karena dia dapat menonton konser band idolanya.

Teriakan histeris dari ribuan manusia itu terdengar ketika Hongki dan ke 4 temannya keluar dari belakang panggung.

“Primadonna?! Are you ready!!!!!!!!!!!!!!”

“AAAAAAAAA!” Dan teriakan antusias para primadonna terus terdengar sepanjang konser berlangsung.

“Kau lihat bagaimana dia tersenyum Yoo Mi….!”Hyun Jo mencengkeram bahu Yoo Mi. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Kedua mata indahnya berbinar.

“Ya , itu pasti karena dirimu.Minhwan dapat tersenyum lagi.”Yoo Mi ikut tersenyum bersama Hyun Jo. Ia dapat merasakan kegembiraan yang sedang dirasakan Hyun Jo. Sang bulan akhirnya menggantikan tahta matahari. Beranjak naik menempati singgasananya. Mata seorang pemuda memicing, berusaha meyakinkan penglihatannya.

“Hyun Jo?” Rasa penasaran membawa pemuda itu berjalan mengikuti mereka.

“Minhwan?Sedang apa dia?”Jaejin dan Hongki menatap sosok Minhwan heran.Mereka akhirnya memutuskan untuk mengikutinya juga.

***

“Ah Yoo Mi aku merasa sangat beruntung bertahun tahun aku menjadi primadonna. Akhirnya kini aku bisa menonton live concert mereka.”

“Itu bukan konser tapi tur. . .”Ralat Yoo Mi.

“Itu sama saja Yoo Mi.” Hyun Jo tetap kukuh pada pendapatnya. Akhirnya Yoo Mi terdiam, entah kenapa terasa sangat tiba tiba. Dan bukan karena kalah berdebat dengan Hyun Jo. Matanya tertuju pada satu arah. Bibirnya kelu,membeku. Yoo Mi benar benar shock melihat siapa yang kini sedang berdiri di samping Hyun Jo.

Dia masih berdiri. Membeku ditempatnya. Wajahnya pucat dan tubuhnya berubah kaku. Suasana hatinya benar benar terlihat seperti langit malam ini. Gelap. Hitam. Tak ada yang dapat menandingi sakit hati yang dirasakannya saat ini.

“Hyun Jo . . .”Panggilnya dengan suara lirih. Gadis itu menoleh dan sangat sangat terkejut mendapati siapa sosok yang sedang berdiri disampingnya.

“Oppa. . .”Air matanya meleleh menyadari sesuatu yang sangat buruk akan segera terjadi.

Ketika segalanya telah terungkap.Apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa diam dan menangis oppa. Oppa . . . aku takut kehilanganmu.

“Primadonna?Hh kau mengerikan.” Mendadak seluruh mata kini tertuju pada Minhwan dan Hyun Jo. Hongki dan Jaejin kini pun kualahan menahan orang orang yang ingin mengambil foto mereka.

“Kalau kau tak mau ini semua menjadi bahan pemberitaan besok, sebaiknya kalian bicarakan ini ditempat lain.” Bisik Hongki sambil masih terus menghalang halangi orang yang ingin memotret Minhwan.

“Kau ikut aku.”Ia menyeret lengan Hyun Jo ..Yoo Mi tergopoh gopoh mengikuti kedua orang itu Hongki dan Jaejin pun akhirnya ikut meninggalkan tempat itu.Meninggalkan orang orang yang kecewa karena tak berhasil mengabadikan pertengkaran tadi.

***

Minhwan menutup pintu kamarnya. Kini di ruangan itu hanya ada ia dan Hyun Jo. Hyun Jo terus menunduk. Tak berani mengangkat wajahnya barang sesenti pun. Kemarahan yang Minhwan pendam sejak tadi kini ia lampiaskan. Kedua tangan itu mengangkat sebuah vas dan mengempaskannya kasar ke lantai hingga pecahannya berserakan kesegala arah. Hyun Jo berjingkat kaget. Jaejin Hongki dan Ja Yun menggedor kamar Minhwan hebat. Tapi , semua itu tak Minhwan pedulikan. Matanya memicing seolah sudah siap untuk menerkam mangsa dihadapannya.

“Aku benar benar tidak mengerti dengan jalan fikiranmu! Primadonna! Kenapa kau tidak bilang itu dari awal!”  Bentak Minhwan membuat butiran bening air mata Hyun Jo jatuh mengalir di sepanjang pipinya.

Minhwan terduduk di lantai. Nafasnya menderu menahan kemarahan yang masih tersisa.Ia memejamkan kedua matanya cukup lama  berusaha meredakkan amarahnya. Namun segalanya berputar dalam otaknya, Hyun Jo, kenangannya akan Soo Jin -segalanya. Kepalanya benar benar terasa pening sekarang. Choi Min Hwan meletakkan kepalanya di pangkuan Hyun Jo.

“Kenapa kau melakukan semua ini disaat aku sudah mempercayakan segalanya padamu?” Tanyanya. Namun Hyun Jo tetap bungkam, lebih tepatnya ia tak sanggup untuk menjawabnya.

“Kenapa aku bisa sebodoh ini?”

“Kenapa kau membohongiku?”

Semua pertanyaan itu membaur bersama udara tertiup angin dan menghilang. Hyun Jo tetap diam. Tangannya mengelus lembut rambut Minhwan. Beranjak turun ke kening , merasakan kulitnya bersentuhan dengan milik Minhwan.

“Ini. Kukembalikan kalungmu.”Ujar Minhwan lalu mencoba berdiri.

“Kau tidak akan pernah melihatku lagi mulai saat ini. “ Tambahnya lalu berjalan tertatih, pergi meraih gagang pintu.

“Choi Min Hwan! “ Brukkk , pintu itu terbuka bersamaan dengan Jaejin yang menerobos masuk.

Dua pasang mata itu bertumbukan. Saling menatap satu sama lain. Hingga akhirnya Minhwan memilih pergi keluar. Ia terus melangkah , berlari menaiki tangga dan menuju ke atas gedung. Sementara itu didalam kamar yang ditinggalkan olehnya, Yoo Mi memeluk erat tubuh Hyun Jo untuk menenangkannya.

“Jaejin Seunghyun sebaiknya kalian ikuti Minhwan.” Ujar Hongki kepada kedua dongsaengnya. Kedua pria itu mengangguk lalu pergi mencari sosok Minhwan. Sementara itu, Hongki menghampiri Hyun Jo, mengulurkan segelas air yang diacuhkan oleh Hyun Jo.

“Kalau begitu Yoo Mi kau dan Hyun Jo disini dulu saja aku akan pergi keluar.” Ujar Hongki lalu beranjak pergi. Setelah menutup pintu ia lalu membuka ponselnya dan menghubungi ponsel Jonghun.

***

FT ISLAND ROOM

“Penampilan yang menakjubkan. Aku sampai pusing mendengar teriakan fans kalian. “ Ja Yun menutup kedua telinganya.

“Hahaha sudah kubilang kan. Aku juga sudah menawarimu untuk pergi ke belakang panggung saja. Aku tahu kau tidak suka keramaian makannya aku menyuruhmu menunggu diback stage.”

“Tapi kalau aku hanya duduk dibelakang aku tidak akan mendapat pengalaman semenarik ini. Haha. . .” Ja Yun tertawa pelan. Matanya menyipit ,terlihat guratan bulan sabit dibawah kantung matanya. Jonghun menyukai cara Ja Yun tertawa.Ah tidak. . . bahkan Jonghun menyukai segala cara Ja Yun bertindak. Jonghun kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya.

“Apa kau mau menjadi kekasihku?” Tanya Jonghun seraya membuka kotak musik ditangannya . Suasana menjadi beku, hanya suara dari kotak musik itu yang terus mengalun.

“Jawab saja kau mau atau tidak.” Jonghun tersenyum ke arah Ja Yun.

“Will you accept my feeling for you?will you stay by my side ? Ja Yun ah?”

“ Can you hear me?” Jonghun melambaikan tangannya dihadapan Ja Yun. Ja Yun tersenyum mengangguk malu malu.

“Should i tell you that i love you too? Bukankah kau itu peramal yang bisa mengetahui apa yang orang lain pikirkan. Seperti saat aku menanyakan keadaanmu dan kau malah mengungkit tentang Minhwan.” Ja Yun tersenyum puas. Jonghun menunduk mengulum senyum. Ia lalu mengulurkan kotak musiknya pada Ja Yun.

“Beautiful . But i don’t need this one my honey. You’re enough for me.”

Akhirnya aku dapat mengerti apa arti kebahagiaan Ja Yun. Setelah semua hal yang aku lewati. Dengan dirimu disisiku sekarang. Semua itu dapat berlalu dan segera ku lupakan. Hanya kenangan masa lalu yang tidak penting lagi untuk terus diingat.

Jonghun meraih tangan Ja Yun menyentuhnya lembut lalu meletakkannya didada.

“Ja Yun akan selalu berada disini. Didalam hati milik Choi Jong Hun.” Ujarnya membuat Ja Yun memeluknya erat.

Tiba tiba ponsel milik Jonghun berdering. Ja Yun berdecak kesal sedangkan Jonghun hanya tertawa kecil melihat tingkah Ja Yun.Ia lalu segera mengangkat ponselnya. Setelah berbicara beberapa patah kata, akhirnya tanpa basa basi ia menarik lengan Ja Yun untuk berdiri dan meninggalkan restaurant itu.

“Ada apa Jonghun-ah?”

“Minhwan.”

“Ada yang salah dengannya?”

“Nanti saja kuceritakan. . .”

***

Constructive Criticism needed😉

@RizaNadya – my twitter

Riza Nadya ‘ica’ – my facebook

Ftrhapsody Requiem – my facebook

:))

Big thanks to Radinka Daynara and Ninoooo🙂

To be continued. . . .

About ftrhapsody

Nothing beats Minari's powerful rhythm when he hits the drums and his charming aegyo x_x

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s